Langsung ke konten utama

Apa saja yang berubah pada seorang perempuan saat dia menjadi ibu?



Ketika seorang perempuan menjelma ibu, tentu saja ada perubahan-perubahan dalam dirinya.

Dulu, foto-foto Kira sering saya bikin jadi begini.
Tapi, terus sama ayahnya diseleksi ketat yang boleh di-share. :D


Saya bukan bicara tentang kondisi fisik—ini lain kali saja saya bahas—tapi lebih kepada kondisi psikis.
Pada saya, sepertinya efek rela berkorban saya sebagai ibu tidak seekstrem yang dialami orang lain—yang diceritakan kawan-kawan kepada saya.

Misal: nggak bisa tidur kalau bayi kita belum tidur. 
Saya pernah ketiduran duluan.... /(>o<")\

Atau saat ada teman sekantor yang membawa oleh-oleh cokelat....
Ibu yang lain langsung terpikir anak-anaknya, sementara cokelat saya sudah separuh terkunyah—blas nggak kepikiran Kira.

Mungkin, saat sebelum menjadi ibu jiwa keibuan mereka memang tinggi. Atau mungkin, jiwa keibuan saya yang di bawah rata-rata.

(˘_˘٥)


Dulu, sebelum menjadi ibu, saya tidak suka—tidak pula benci—melihat anak-anak kecil di sekitar. Tapi, kata yang paling mendominasi di otak saya setiap kali melihat anak kecil adalah: merepotkan.

Iya, kadar keibuan saya mungkin minus. ;

Sementara, beberapa kawan bercerita:



“Lucu, ya, anak kecil itu.”
Iya, lucu. Tapi repot banget pasti. (˘o ˘")

“Seneng deh kalo lewat rumah yang ada jemuran bayinya.”
Hah? Yang ini saya nggak ngerti, senengnya di mana. (¬ -̮ ¬)


Jadi, kehadiran Kira, bisa dibilang membawa kekhawatiran lebih akan masa depan. Masa depan dia. Secara psikologis dan materi. Awalnya….

Nyatanya, setahun lebih berlalu dan saya mulai menjadi ibu yang iri. Iri kalau anaknya lebih memilih menempel kepada ayahnya. Atau pengasuhnya. 

Saya khawatir jatuh cinta. Karena, sejauh perjalanan hidup, saya tahu jika sudah cinta maka saya akan berlebihan melindungi. Padahal, bukan demikian, kan, sebaiknya?

Pada saat inilah saya belajar. 

Bahwa mencintai anak adalah menguatkan hati membiarkan dia terjatuh beberapa kali saat tertatih berjalan, atau menguatkan hati saat dia merengek meminta sesuatu untuk tidak segera memberikan apa yang dia mau.

Karena kelak, jauh di depan, dia akan tetap berjalan sendirian. Dia harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu, dan bukannya merengek. 

Setahun lebih berlalu, dan saya mulai menyadari.

Bukan saya yang merawat Kira.

Bukan saya yang berusaha menguatkan Kira.


Sebaliknya, jiwa saya yang dirawat Kira.

Saya yang dikuatkan bayi kecil itu hingga saat ini.
Maka, menurut saya, ketika seorang perempuan menjelma ibu, sebenarnya mendapat sumber pembelajaran dan kebahagiaan baru.



(˘˘)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda." "Iya, Bunda, tapi kan...." Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan. Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai. "Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek. Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius? "Tapi, Mama—" Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah." Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus y…

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

“Yang ini cantik, Mas.”
“Nggak, ah. Kurang besar.”
Lagi-lagi, aku ditolak.
Sejak diizinkan Tuhan hadir di bumi, aku sadar bahwa diriku dipersiapkan untuk seseorang yang spesial, bukan orang sembarangan. Meskipun sudah beberapa laki-laki yang menahanku lama, pada akhirnya mereka semua mengembalikanku baik-baik. Belum ada yang bersedia mengeluarkanku dari sini.
Seperti yang baru saja terjadi. Laki-laki itu menolak karena, lagi-lagi, aku dirasa kurang besar.
Memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku sudah diciptakan seperti ini. Menurutku, seluruh bagian tubuhku ini saling melengkapi, sudah sempurna. Memang, ada beberapa kawanku yang akhirnya diberi perbaikan. Mereka menghilang beberapa saat, lalu kembali dengan wujud baru. Biasanya lebih besar, kalau tidak tampak lebih memukau. Hm, apa ya, istilahnya, berkilau. Ya, mereka tampak semakin berkilau.
Tapi pasti sakit sekali prosesnya. Aku bergidik membayangkan tubuhku dirombak. Memang sebaiknya kita menerima di…

Surat buat Ipal (Writing Challenge Kampus Fiksi Hari Kesembilan)

Ahoi, Ipal.
Nanti kalo udah bisa baca, bolehlah buka-buka blog Emak buat liat tulisan--yang dibuat buru-buru--ini.
Emak nggak inget pernah nggak bikin surat selain surat izin sakit dan surat lamaran kerja. Tapi karena tantangannya begitu dan Emak udah telat dua hari ngumpul, ya bikinlah surat ini.
Udah, ya, gitu aja.
Kalo-kalo kamu beneran baca, bahkan setelah kena omel nanti, tetaplah berusaha merasa beruntung jadi anak Emak. Karena itu takdir~~~hohoho ||--(^o^)>

Bhay, Pal.
Emak.