Langsung ke konten utama

Bayi Harus Dibedong Agar Kakinya Lurus. Bayi Harus Pake Gurita Biar Perutnya Nggak Buncit. Benarkah?


Untuk menjawab pertanyaan apakah bayi harus dibedong, kita harus mengetahui jawaban pertanyaan berikut terlebih dahulu.

Apa sebenarnya tujuan bayi dibedong?

Jawabannya sederhana, agar bayi merasa hangat.

Pagi pertama setelah melahirkan, perawat membawa Kira ke hadapan kami dalam kondisi dibedong rapi. Karena tidak tahu mesti diapakan, dan Kira juga lagi tidur, saya puas-puasin memandangnya saja.
Beberapa waktu kemudian, dokter datang dan bertanya, "Sudah disusui?"
"Belum. Dari tadi masih tidur, Dok."
"Lah, dibangunin aja. Ini bedongnya dibuka biar dia bangun. Kalo dibedong begini ya dia anteng, soalnya ngerasa anget terus."
*dalem hati* "Oh, gitu."
"Dibedong biar anget, nggak perlu terus-terusan dibedong. Dan jangan pakein gurita, ya."
"Iya, Dok."

Setelah tanya ke sana dan ke sini, ternyata pemakaian bedong nggak berpengaruh kepada kaki.
Tapi..., sebagai ibu baru, tetep khawatir ketika masih banyak juga yang bilang kakinya bakal jadi X atau O kalau nggak dibedong. Termasuk keluarga. Padahal, waktu itu Jogja lagi panas. Dan kondisi Kira selalu keliatan nggak nyaman ketika dibedong.

Bayi sama kayak kita, cuma dengan daya tahan tubuh yang belum sekuat kita. Yang paling mengkhawatirkan adalah angin dan sorot matahari yang panas.
Untuk melindungi bayi dari angin itulah maka diperlukan bedong. Tapi kalau kondisi sedang panas, membedong bayi justru akan menyiksa. Sama seperti kita, kondisi sedang terik dan dipakaikan selimut.

Sebagai jalan tengah, saya biarkan jika ada salah satu anggota keluarga yang mau membedong Kira, kecuali siang hari. Lagian, biasanya nggak bertahan lama. Seenggaknya, tangan Kira akan langsung keluar satu. :D

Kira pas dibedong


Mengenai pemakaian gurita, tujuannya sama saja, agar perut bayi hangat. Jadi, kalau sudah terlanjur beli dan mau dicoba pake, gurita yang tali maupun instan, jangan kenceng-kenceng, ya.
Kalau yang belum telanjur, saran saya sih nggak usah beli aja.

Perut bayi buncit itu wajar, nanti juga kempes sendiri. Kalau ditahan dengan gurita yang diikat erat, nanti malah mengganggu pertumbuhan organ dalam bayi. Itu tadi jawaban lanjutan dari Bu Dokter.


Santai aja kalau bayi kita nggak dibedong dan nggak dipakein gurita.
Beri pengertian dengan sabar kepada orang sekitar agar kita sama-sama nyaman.


Cara membedong bayi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda." "Iya, Bunda, tapi kan...." Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan. Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai. "Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek. Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius? "Tapi, Mama—" Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah." Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus y…

Surat buat Ipal (Writing Challenge Kampus Fiksi Hari Kesembilan)

Ahoi, Ipal.
Nanti kalo udah bisa baca, bolehlah buka-buka blog Emak buat liat tulisan--yang dibuat buru-buru--ini.
Emak nggak inget pernah nggak bikin surat selain surat izin sakit dan surat lamaran kerja. Tapi karena tantangannya begitu dan Emak udah telat dua hari ngumpul, ya bikinlah surat ini.
Udah, ya, gitu aja.
Kalo-kalo kamu beneran baca, bahkan setelah kena omel nanti, tetaplah berusaha merasa beruntung jadi anak Emak. Karena itu takdir~~~hohoho ||--(^o^)>

Bhay, Pal.
Emak.