Langsung ke konten utama

Cara Membersihkan Kerak Pada Kepala Bayi

Saat usia Kira tiga bulan, saya tiba-tiba menyadari bahwa kepala Kira tampak abu-abu bukan karena rambutnya yang mulai tumbuh, melainkan karena kerak yang hampir menutup kepala bagian depan atasnya.

Hah? Kok bisa?

Saya pernah baca tentang kerak pada kepala bayi, merupakan sisa-sisa kotoran sejak bayi dilahirkan yang belum sempurna bersih. Jadi, saya agak kaget ketika kerak kepala ini muncul tiga bulan setelah Kira lahir.

Berdasarkan artikel yang saya baca dulu, cara membersihkannya cukup sederhana. Dengan menggunakan baby oil dan cutton bud.

Dan saya jadi paham kenapa namanya kerak kepala. Karena memang kotoran itu seperti kerak yang menempel di kepala bayi kita. Tebel-tebel. 

Antara takjub dan khawatir, saya dan kakak saya mulai berlomba membersihkan kepala Kira.

Caranya:

Cutton bud dibasahi dengan baby oil, lalu cutton bud yang sudah basah itu digunakan untuk membersihkan kerak kepala dengan menggeser-gesernya sedikit-demi sedikit. Kadang, perlu sedikit lebih ekstra kalau ketemu yang tebal. Lakukan berulang-ulang sampai semua kerak kepala hilang.

Saya baru kepikiran ngambil fotonya setelah separuh perjalanan membersihkan. Punya blog begini impian sejak lama, tapi baru terealisasi sekarang.
Jadi, foto ini setelah separuh kami bersihkan. Andai saya bisa share foto kepala Kira pas masih penuh kerak....

Pas ketemu kerak yang lumayan bandel, kami fokus sebentar agar tidak melukai kepala Kira.
Akhirnya, setengah jam kemudian, dikerjakan oleh dua orang, kepala Kira bersih kembali....

Ini rahasia, sssttt..., ssstt..., saya memang nggak bisa mandiin Kira sendirian sampe umurnya setahun. Pasti berdua dengan suami. Nah, mungkin karena pas makein sampo terlalu takut melukai, kerak kepala pun berkumpul dan menumpuk.

Namanya juga baru jadi ibu. *alasan*

Sudah separuh jalan. Itu yang warna abi-abu tua dan kelihatan tebal adalah kerak kepala.

Entah habis berapa cutton bud.

Kerak kepala yang berhasil ditampung.

Kadang cutton bud-nya perlu diposisikan berdiri. Kayak mencongkel, tapi pelan2.

Sudah bersih lagiii... :*


Semog bermanfaat....
(^-^)/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

“Yang ini cantik, Mas.”
“Nggak, ah. Kurang besar.”
Lagi-lagi, aku ditolak.
Sejak diizinkan Tuhan hadir di bumi, aku sadar bahwa diriku dipersiapkan untuk seseorang yang spesial, bukan orang sembarangan. Meskipun sudah beberapa laki-laki yang menahanku lama, pada akhirnya mereka semua mengembalikanku baik-baik. Belum ada yang bersedia mengeluarkanku dari sini.
Seperti yang baru saja terjadi. Laki-laki itu menolak karena, lagi-lagi, aku dirasa kurang besar.
Memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku sudah diciptakan seperti ini. Menurutku, seluruh bagian tubuhku ini saling melengkapi, sudah sempurna. Memang, ada beberapa kawanku yang akhirnya diberi perbaikan. Mereka menghilang beberapa saat, lalu kembali dengan wujud baru. Biasanya lebih besar, kalau tidak tampak lebih memukau. Hm, apa ya, istilahnya, berkilau. Ya, mereka tampak semakin berkilau.
Tapi pasti sakit sekali prosesnya. Aku bergidik membayangkan tubuhku dirombak. Memang sebaiknya kita menerima di…

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda." "Iya, Bunda, tapi kan...." Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan. Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai. "Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek. Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius? "Tapi, Mama—" Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah." Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus y…

Surat buat Ipal (Writing Challenge Kampus Fiksi Hari Kesembilan)

Ahoi, Ipal.
Nanti kalo udah bisa baca, bolehlah buka-buka blog Emak buat liat tulisan--yang dibuat buru-buru--ini.
Emak nggak inget pernah nggak bikin surat selain surat izin sakit dan surat lamaran kerja. Tapi karena tantangannya begitu dan Emak udah telat dua hari ngumpul, ya bikinlah surat ini.
Udah, ya, gitu aja.
Kalo-kalo kamu beneran baca, bahkan setelah kena omel nanti, tetaplah berusaha merasa beruntung jadi anak Emak. Karena itu takdir~~~hohoho ||--(^o^)>

Bhay, Pal.
Emak.