Langsung ke konten utama

Novel 9 dari Nadira Leila S. Chudori




Di sebuah pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan ibunya tewas bunuh diri di lantai rumahnya. Kematian sang ibu, Kemala Yunus - yang dikenal sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu bertarung mencari diri - sungguh mengejutkan.

Tewasnya Kemala kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak ("Melukis Langit"); seorang wartawan ("Tasbih"); seorang kekasih ("Ciuman Terpanjang"); seorang istri, hingga akhirnya membawa Nadira kepada sebuah penjelajahan ke dunia yang baru, dunia seksualitas yang tak pernah disentuhnya ("Kirana").



Pendapat yang sudah baca buku ini bisa dilihat di sini.
Penulisnya meraih Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Fiksi - shortlist (2010) dan Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2011).


Kalau mau beli buku ini, kamu bisa hubungi nomor 089640262778
dengan harga 50.000.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda." "Iya, Bunda, tapi kan...." Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan. Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai. "Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek. Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius? "Tapi, Mama—" Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah." Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus y…

Tiga Jenis Pompa ASI yang Saya Pakai

Pengalaman Memakai Pompa ASI
Sejak melahirkan, saya memang memutuskan akan memberikan ASI sebisanya. Karena tidak mahir memeras dengan tangan kosong, saya mulai mencari pompa ASI. Awalnya, bukan untuk Kira ketika ditinggal kerja saya mencari pompa, tetapi untuk Kira yang sedang disinar biru di rumah sakit bilirubinnya tinggi.
Ada tiga pompa yang sudah saya coba, dan ini ulasannya.
Ketika mencari di rumah sakit, suami saya menemukan pompa ASI model pertama.



Pompa ini bentuknya agak membingungkan. Saya tidak paham apa maksud pipa panjang yang menghubungkan pompa dan corong yang melekat pada payudara. Yang pasti, rasanya sangat tidak nyaman dan tidak efisien. 

Saya rasa, karena udara yang seharusnya langsung terpakai sebagai energi pemompa harus melewati liukan pipa itu. Jadi, kekuatannya sudah jauh berkurang sehingga kekuatan menyedot ASI pun minim.
Ini adalah pompa pertama yang saya gunakan, dan pertama kali menggunakannya di rumah sakit. Sungguh, sulit sekali mengeluarkan ASI dengan pompa…