Langsung ke konten utama

Paniknya Mendengar Bayi Kita Yang Kuning Harus Ganti Darah

Pernah mendengar bayi kuning karena kurang dijemur dan kurang minum susu?
Kira mengalaminya.

Sudah lama sekali, tapi akan saya usahakan menceritakannya kembali.
Usia Kira baru lima hari waktu itu. Cek ke rumah sakit hanya untuk cek rutin saja sebenarnya.

Awalnya, dokter hanya melihat, tapi terus disuruh cek darah. Padahal kami melihatnya biasa aja, nggak merasa kalau Kira kuning. Tapi, dokter langsung menyuruh cek. 



Setelah saya lihat-lihat lagi foto ini, Kira memang kuning banget.
Tapi, dulu nggak ngerti. Kirain warna bayi memang begini. Hikz.



 Dan hasilnya...kadar bilirubin Kira ternyata sekitar 21.
"Nginep, ya," kata dokter.
"Hah?"
"Iya, disinar. Ini bilirubinnya tinggi sekali. Kalau sudah sampai 24 harus ganti darah."

"Ganti darah, Dok? Ganti darah gimana??" Saya mulai panik.
"Ya diganti. Nanti semua darah bayinya dikeluarkan dulu, baru diganti yang baru."
*Ya Tuhaaan.... Darah siapa yang baru itu, Dok?*
Itu dalam hati. Kenyataannnya, otak saya sempat blank beberapa saat karena panik.

"Dicoba dulu di sini. Lihat perkembangannya. Coba tiga hari dulu. Kita lihat turunnya berapa."

*Saya cuma ikut prosedur seterusnya dengan gamang.*

Waktu itu, kondisi saya sendiri masih belum fit. Saya tipe yang kalau luka sembuhnya lama. Jadi, ke rumah sakit sekalian minta dicek jahitan. Dan dikasih salep sama dokter dan disuruh banyak-banyak makan putih telur.

Mengantar Kira ke ruang...--ya ampun, lupa namanya; ruang penyinaran, mungkin--penyinaran sungguh hal berat. Dan ketika mendengar perawat berkata nggak boleh ditunggui, saya sudah nggak tau lagi mesti gimana. Saya memang dalam kondisi nggak stabil, tapi berpisah dengan Kira jauh lebih menyakitkan daripada melepasnya di dalam tempat tidur itu sendirian.

Sambil sesenggukan, saya berpamitan kepadanya.
"Sabar, ya, Kira. Cuma tiga hari di sini. Nanti Bunda bakal sering-sering dateng. Seenggaknya, susu Bunda akan nemenin Kira. Sabar ya...."

Berulang-ulang, sambil sesenggukan. 
Percaya atau nggak, Kira pun sesenggukan sambil mempererat genggaman tangannya ke jari telunjuk saya. Saya merasa semakin sesak.

Saat di ruang penyinaran, waktu-waktu untuk mengyusui adalah 3 jam sekali. Jam 12, 3, 6, 9, 12 lagi... dan seterusnya. Ibunya cuma beolh menyusui di jam-jam tersebut, kecuali jika membawakan ASI-nya melalui dot.

Saat itu, saya belum paham bahwa ASI saya masih sedikit sekali keluarnya. Mencoba mengunakan tangan, nyaris nihil. Suami saya mencari alat pompa di rumah sakit, dan dapat yang ada selangnya. Semakin sakit.

Perawat yang antara kasihan dan tidak sabar melihat saya yang kucel kumel dan masih ngotot mendapatkan ASI dengan teknik yang salah sempat membantu. Hasilnya, semakin sakit. Saya bukan tipe yang nyaman dengan hal mendadak... :'(

Akhirnya, peraat menyarankan saya memilih susu formula, setelah melihat hasil perahan ASI yang hanya berkisar antara 10-20ml. Padahal sudah malam, dan Kira harus minum 3 jam sekali agar program penyinaran ini sukses. 


"Harus berapa, Mbak, susunya, biar aman?"
"Ya, seenggaknya 60 ml. Atau 30 tiap kali minum."


Sekitar satu setengah jam lagi, Kira sudah harus minum. Saya belum istirahat dari pagi dan ASI yang sepertinya semakin dipaksa semakin tidak keluar ini sudah buntu. 

Saya menyerah, dan memilih salah satu susu formula yang ditawarkan.

Sambil kembali melihat Kira di box penyinaran, saya berpamitan, sambil bertekad dalam hati bahwa saya akan berusaha mendapatkan ASI agar dia segera pulih.


Kira di box penyinaran.

Dengan tekad kuat, saya bisa mengirim ASI sebanyak ini ke Kira untuk 2 kali minum.

Sampai rumah, saya langsung minta dibelikan alat pompa lain dan mulai memompa.
Berbekal pompa ASI baru merek J*nny--masih pompa karet waktu itu (Masalah pompa ASI akan saya bahas sendiri nanti)--ASI saya keluar lumayan banyak. Lagi pula, kalau di rumah, tentu kita lebih nyaman memompa dengan tenaga ekstra dan posisi ajaib.

Rasanya jangan ditanya. Puting susu kita dipecah agar bisa menghasilkan tetes-tetes susu itu.
Sungguh, saya kira perjuangan terberat seorang ibu adalah melahirkan. Rupanya--ya bisa jadi ini cuma bagi saya aja, sih--menyusui pun rasanya luar biasa. 

Puas mendapatkan sekitar 60-90 ml, saya meminta suami langsung mengantarkannya ke rumah sakit.

Syukurlah, Kira hanya minum sedikit sekali susu formula, dan seterusnya minum ASI saya.

Kenyataannya, tiga hari saya nggak ke rumah sakit. Saya memilih fokus memulihkan diri agar ketika menjemput Kira kondisi saya sudah jauh lebih baik. Baik fisik maupun psikologis.

Saya makan banyak sekali putih telur. Memaksa memasukkan sayur-mayur yang selama ini tidak saya sukai--sukanya goreng-gorengan. Pare, katuk, semua yang hijau... saya telan agar tidak hanya banyak, tapi kualitas ASI-nya juga bagus.

Meskipun demikian, usaha yang menurut saya sudah menyentuh batas maksimal itu masih dianggap kurang. Entah sekuat apa ibu-ibu lain di luar sana. Tapi, saya rasa tiap ibu punya batas tekanan masing-masing.

Jadi, kadang saya dengan bebal bolos makan sayur.
Hiks.

Tiga hari kemudian, saya bersama suami dan keluarga ke rumah sakit, berharap dapat menjemput Kira. Syukurlah, dugaan perawat yang semula bisa jadi Kira akan ditambah 2 hari ternyata salah. Para perawat takjub dengan kecepatan merosotnya bilirubin Kira, menjadi 11--kalau nggak salah.



"Ini baik sekali. Padahal dugaan kami, dengan angka bilirubin mendekati 22 seperti itu akan membutuhkan waktu 5 hari. ASI-nya bagus. Jangan lupa disusui terus, ya."

Begitu kira-kira kata-kata bidannya. Saya bahagiaaa sekali. 
Sejak saat itu, saya rajin menyusi dan menjemur--eee, yang menjemur kadang masih bolos, soalnya kesiangan, heee....

Setelah itu pun beberapa konsultasi ke dokter terkait pup kira yang aneh, sudah beberapa hari nggak pup, atau kondisi lain yang menurut kami mengkhawatirkan, dokter hanya berkata, 

"Masih full ASI, kan? Ya udah, gpp ini. Terus kasih ASI aja."

ASI is the best!
\(^0^)/

Saya pikir, hikmah Kira kuning salah satunya adalah saya berhasil memaksa diri untuk bertekad lebih keras agar sukses mengeluarkan ASI.

Semoga bermanfaat.
(^-^)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Tiga Jenis Pompa ASI yang Saya Pakai

Pengalaman Memakai Pompa ASI
Sejak melahirkan, saya memang memutuskan akan memberikan ASI sebisanya. Karena tidak mahir memeras dengan tangan kosong, saya mulai mencari pompa ASI. Awalnya, bukan untuk Kira ketika ditinggal kerja saya mencari pompa, tetapi untuk Kira yang sedang disinar biru di rumah sakit bilirubinnya tinggi.
Ada tiga pompa yang sudah saya coba, dan ini ulasannya.
Ketika mencari di rumah sakit, suami saya menemukan pompa ASI model pertama.



Pompa ini bentuknya agak membingungkan. Saya tidak paham apa maksud pipa panjang yang menghubungkan pompa dan corong yang melekat pada payudara. Yang pasti, rasanya sangat tidak nyaman dan tidak efisien. 

Saya rasa, karena udara yang seharusnya langsung terpakai sebagai energi pemompa harus melewati liukan pipa itu. Jadi, kekuatannya sudah jauh berkurang sehingga kekuatan menyedot ASI pun minim.
Ini adalah pompa pertama yang saya gunakan, dan pertama kali menggunakannya di rumah sakit. Sungguh, sulit sekali mengeluarkan ASI dengan pompa…

Saya nggak gitu, kok... (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedelapan)

Tema Hari Kedelapan Writing Challenge Kampus Fiksi nyuruh curhat beneran apa, yak? “Sebutkan 5 fakta yang berlawanan dengan 5 opini orang lain tentang kamu.”
HitamSejak di bangku sekolah, kawan saya sering menerka-nerka, bagaimana mungkin kulit saya bisa sehitam ini (bahkan telapak tangan saya gelap), sementara kakak-kakak dan adik saya yang jumlahnya bisa bikin tim basket itu putih-putih. Macam-macam prediksi mereka ajukan. Ada yang mengira saya terlalu lama dijemur (dipepe) ketika masih bayi, kelupaan diangkat. Ada yang menduga saya adalah bayi yang tertukar (sinetron kali, ah). Ada pula yang menduga saya ketimpahan oli dan meresap hingga ke kulit. Kampret emang pada omongannya. Tapi ya kami bahas sambil ngakak-ngakak aja. Baru-baru ini, salah satu anak KF juga ada yang nyeletuk: “Mungkin Mbaknya bukan asli Lampung, ya.” Diiringi suara ngakak Wahyu (ini yang terngiang, paling kenceng), dan kawan-kawan yang lain. Karena oh karena, saya sudah pernah cerita sebelumnya bahwa tidak sedikit…