Langsung ke konten utama

Perkenalkan (cerpen Muhajjah Saratini)



Perkenalkan

(cerpen Muhajjah Saratini)


Hari itu sama seperti hari lainnya. Tawa Ayah menggema saat melihat Adik mencoba  memasukkan ayam ke kandang. Ini percobaan ketiga Adik menggiring agar semua ayam kami berhasil masuk kandang. Kalau mendengar gelak Ayah, sepertinya Adik masih belum berhasil.
Aku membantu Ibu mengangkati jemuran sambil menikmati sinar matahari yang sudah oranye. Kebanyakan orang menyukai bulan, tapi aku lebih suka matahari.
"Besok lagi ya, Yah? Tadi cuma kurang satu, besok pasti sudah bisa." Suara ngotot Adik diikuti penampilannya yang berlepotan tanah. Ibu yang melihatnya hanya tersenyum, seperti biasa.
"Iya.” Ayah menjawab sambil menegakkan sapu lidi yang jatuh tersenggol kaki Adik.
"Sudah? Hari ini kurang berapa ayam?” tanya Ibu, sengaja menggoda.
"Satu," jawab Adik semangat.
"Wah?” Wajah ibu yang bertanya dibalas Ayah dengan menunjukkan empat jari kanannya.
Aku dan Ibu tersenyum bersamaan.
“Bagus. Sekarang mandi du….” Ibu tidak jadi menyelesaikan kalimatnya. Adik memang sedang melepaskan baju.
“Mandi sama Ayah...!” teriak Adik bersemangat.
Dasar tukang heboh, gerutuku dalam hati. Sebenarnya, sih, aku sedikit iri. Sepertinya, ada hal-hal yang hanya bisa dinikmati Ayah dengan anak lelakinya.
“Iya, iya. Ayo, kita perang air....” Tak kalah semangat Ayah menimpali ucapan Adik.
Saatnya aku pergi. Jemuran yang baru diangkat harus segera dilipat, begitu Ibu sering bilang. Sebelum berbalik ke arah pintu dapur, kurasakan cipratan air di wajah, membuatku berpaling, sudah bersiap memarahi Adik. Tapi, ternyata selang air ada di tangan Ayah. Belum hilang kekagetanku, Ayah kembali menekan ujung selang agar air memancar jauh hingga mengenaiku dan tentu saja mengenai….
“Ayah, jemurannya… jadi basah lagi.”
Ups!
Ibu diam, tapi itu justru lebih mengkhawatirkan.
Aku, Adik, dan Ayah saling melirik dalam diam.
“Kalian ini….” Ibu geleng-geleng, mengambil jemuran dari tanganku, lalu masuk ke dapur.
Kami masih diam di tempat, seperti gerombolan anak badung yang sedang dihukum.
“Jangan lama-lama main airnya, nanti masuk angin.”
Mendengar seruan Ibu dari dapur—yang artinya kami sudah dimaafkan—Ayah segera menyerang Adik dan aku bergantian.
Perang air dimulai.

***

Hari itu sama seperti hari lainnya. Ayah hanya ke masjid untuk shalat maghrib seperti biasa. Lalu bagaimana mungkin ini bisa terjadi?
“Kami benar-benar minta maaf.” Lirih suara perempuan yang seumuran ibuku itu. Sesekali tangannya menekan-nekan tisu yang sudah nyaris kisut di antara jemarinya. Perkenalkan, dia ibu si pelaku.
“Maaf nggak bisa mengembalikan Ayah.”
Aku yang menjawab. Adik kami ungsikan ke tempat Nenek. Ibu juga. Aku bersama beberapa Paman, Uwak, dan Bibi yang menerima mereka di rumah.
Laki-laki gagah yang ada di sebelah kanan pelaku agak tersentak mendengar jawabanku yang ketus. Perkenalkan, dia ayah si pelaku. Duduk dengan wajah lelah. Entah lelah oleh perasaan bersalah atau lelah mengusahakan anaknya terbebas dari tuntutan.
Diapit kedua orang tuanya, seorang pemuda duduk dengan wajah nyaris selalu menunduk. Saat aku sedang berpikir, Kalau kuceritakan bahwa keluarga pembunuh Ayah menduduki kursi ruang tamu keluarga kami, Ibu akan bereaksi seperti apa, ya?, terdengar lagi suara lain.
“Saya minta maaf. Saat itu gelap sekali. Penerangan jalan di sana kurang.”
Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut si pelaku. Saat mengucap itu, dia tetap menunduk. Setelah kuperhatikan, aku rasa usianya tidak jauh dariku. Aku tebak, dia baru saja menjejak SMA. 
Aku membencinya.
Ada yang bilang, jika benci seseorang kau justru akan dihantui olehnya.
Tapi perasaan apa lagi yang mungkin muncul untuk seseorang yang bahkan mungkin tidak mengerti apa yang sudah dia ambil dari kami?
“Itulah gunanya lampu motor,” ujarku datar, ingin melihat reaksinya.
Dia mulai berani mengangkat kepala saat bicara. Melihat ekspresi wajahku, dia kembali menunduk.
Ekspresi seperti apa yang dia lihat?
Aku memang sangat membencinya.
Pengecut yang bahkan tidak mampu mengakui bahwa itu adalah kesalahannya seperti dia sebenarnya bahkan tidak pantas dibenci.
“Kamu bisa saja tidak membawa motor yang lampunya mati itu. Kamu bisa saja tidak membawa motor dengan lampu mati secepat itu.” Aku mendengar suaraku sendiri bergaung datar, melingkupi ruang keluarga yang tak lagi hangat ini.
“Sungguh, aku tidak sengaja.”
“Kamu sengaja,” jawabku cepat.
Tiga orang di hadapanku tersentak bersamaan, termasuk pamanku yang duduk tepat di sebelahku.
“Kamu bisa saja tidak membawa motor itu karena umurmu belum cukup untuk dapat hak itu.” Saat berbicara seperti ini, kutatap wajah ibu dan ayahnya bergantian. Memastikan mereka paham, kalimat itu lebih kutujukan kepada mereka. Tapi, mereka ternyata sedang menunduk.
Kembali keheningan panjang yang memenuhi ruangan ini.
Lalu ingatanku menyeretku kembali pada sore itu, saat kami bermain Perang Air di belakang. Dari sekian kenangan, entah kenapa itu yang dipilih otakku. Justru setelah Ayah tiada, otakku memutar kembali adegan itu dalam gerakan lambat. Aku yakin, saat itu Ayah bisa membaca rasa iriku melihat kedekatannya dengan Adik. Karena itu Ayah sengaja menyiramku, agar aku bisa ikut keseruan sore itu. Ah, Ayah. Semuanya tak akan sama lagi di rumah ini.
Adik tidak bisa lagi memasukkan ayam-ayam sambil tertawa.
Ibu tidak lagi bersenandung sambil mencuci pakaian.
Ibu bahkan hanya berkata sepatah dua patah kata sejak kejadian itu.
Apa dia tau? Pandanganku kembali jatuh kepada orang-orang di hadapanku, lalu terfokus kepada orang yang di tengah.
Apa pemuda yang sudah menghilangkan nyawa ayahku ini peduli?
Berapa lama jeda yang kucipta dengan menghadirkan bayangan-bayangan suram tanpa ayah tadi? Aku tidak tahu pasti. Dan tak peduli.
“Kamu bisa memilih.” Harus kusebut kalimat penutup ini. Agar mereka tahu setidaknya, bagaimana mereka di mataku. “Dan kamu memilih menjadi pembunuh.”
Pemuda itu mulai menangis, menyusul ibunya yang sudah sesenggukan. Sekarang, suasana di ruangan ini suram sekali, mungkin sesuram proses pemakaman Ayah seminggu lalu.
Aku melangkah ke dapur, bukan untuk menangis. Air mataku sudah habis sepertinya. Rupanya, dari dapur pun aku masih bisa mendengar percakapan mereka. Pamanku dan kerabat yang lain yang mengajak mereka bicara sekarang. Bagianku sudah selesai. Aku sudah tidak peduli dengan mereka. Bahkan nama mereka pun tak sudi kusebut di sini.
Sesekali terdengar lagi isak tangis.
Sayang, seperti maaf, tangis penyesalan mereka pun tidak bisa mengembalikan Ayah. (*)


Sumber Gambar



Blog post ini dibuat dalam rangka 
mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen 
‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan
Nulisbuku.com 


Sejak blog lama saya, Celotah Celoteh, resmi diikutkan jadi anggota BBI, semua tulisan yang sifatnya pribadi pindah ke sini. Termasuk, tulisan untuk ikutan lomba ini. 
Kamu juga bisa ikutan, DL-nya sampe 1 November 2015. 
Cek ketentuannya di sini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda." "Iya, Bunda, tapi kan...." Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan. Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai. "Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek. Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius? "Tapi, Mama—" Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah." Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus y…

Tiga Jenis Pompa ASI yang Saya Pakai

Pengalaman Memakai Pompa ASI
Sejak melahirkan, saya memang memutuskan akan memberikan ASI sebisanya. Karena tidak mahir memeras dengan tangan kosong, saya mulai mencari pompa ASI. Awalnya, bukan untuk Kira ketika ditinggal kerja saya mencari pompa, tetapi untuk Kira yang sedang disinar biru di rumah sakit bilirubinnya tinggi.
Ada tiga pompa yang sudah saya coba, dan ini ulasannya.
Ketika mencari di rumah sakit, suami saya menemukan pompa ASI model pertama.



Pompa ini bentuknya agak membingungkan. Saya tidak paham apa maksud pipa panjang yang menghubungkan pompa dan corong yang melekat pada payudara. Yang pasti, rasanya sangat tidak nyaman dan tidak efisien. 

Saya rasa, karena udara yang seharusnya langsung terpakai sebagai energi pemompa harus melewati liukan pipa itu. Jadi, kekuatannya sudah jauh berkurang sehingga kekuatan menyedot ASI pun minim.
Ini adalah pompa pertama yang saya gunakan, dan pertama kali menggunakannya di rumah sakit. Sungguh, sulit sekali mengeluarkan ASI dengan pompa…