Langsung ke konten utama

Selama Hamil, Pilih Konsultasi ke Dokter atau Bidan?

Sumber

Seperti calon ibu baru pada umumnya, karena baru pertama kali mengandung, saya memilih konsutasi dengan dokter. Karena, kesannya--setidaknya bagi saya--dokter lebih meyakinkan.

Saya hanya cek sebulan sekali. Jadi, mungkin sekitar delapan kali rutin ke dokter. Memasuki bulan ke delapan, saya mulai ke puskesmas dan bidan. Hal ini kami (saya dan suami) lakukan karena mengikuti prosedur untuk dapat menggunakan layanan BPJS.

Setelah ke puskesmas, kami baru mulai mencari tempat melahirkan. Karena berharap melahirkan dengan normal dan lancar, kami mencari bidan terdekat, dan ternyaman. Soalnya, pernah juga dapet bidan yang bikin nggak nyaman. Jadilah kami bolak-balik ke bidan untuk konsultasi pada saat mendekati waktu melahirkan.

Berdasarkan pengalaman itu, ini beda konsultasi hamil ke bidan dengan ke dokter kandungan

USG
Sebagai calon ibu, kita pasti penasaran, seperti apa bentuk makhluk yang menetap dan akan berkembang selama 9 bulan di badan kita. Enaknya konsultasi dengan dokter, setiap periksa kita pasti akan mendapat foto USG. Kalau di bidan, alatnya nggak ada. Tapi, kalau merasa cukup puas dengan mendengar detak jantung si kecil, di bidan ada alatnya, kok.

Biaya
Jelas biaya ke dokter lebih mahal daripada ke bidan. Setiap konsultasi ke dokter, kami dulu menghabiskan 50-75 ribu (tergantung vitamin yang diberikan). Sementara selama konsultasi hamil ke bidan... 0-40 ribu (ini juga bidannya menjelaskan kenapa agak banyak bayarnya). Jadi, kenyamanan di kantong jelas lebih nyaman di bidan.

Keramahan
Karena baru pertama hamil, pasti kita ingin banyak tanya. Karena itu, penting untuk menemukan orang yang bisa menjaga keramahannya. Saya memang mencari dokter dan bidan yang ramah. Jadi, baik dokter dan bidan tempat saya konsultasi ramah semua. :)
Kami pernah menemui dokter lain dan bidan lain untuk bandingan. Tapi karena pelayanannya kesannya cuek, saya tinggalkan. Dan itu hal wajar.

Terpercaya
Lebih percaya mana, dokter atau bidan?
Mungkin, lebih tepat kalau saya bilang, lebih khawatiran mana.
Selama konsultasi di dokter, dokter saya selalu membangun pikiran positif di kepala saya. Hal ini sangat membantu menepis kekhawatiran-kekhawatiran selama hamil. Pokoknya, bagi dokter saya sepertinya selama janin memang nggak bermasalah dan sang ibu happy, maka semua akan baik-baik saja.

Pertumbuhan berat badan saya kurang selama hamil, asisten dokternya aja sampe bilang kalau saya perlu berusaha menambah berat lagi sekian kilo. Ucapan asisten bidan itu tentu menambah kekhawatiran saya karena teman-teman saya banyak yang bilang saya kekurusan untuk ukuran ibu hamil. Tapi, setelah antre dan bertemu dokter, dokter bilang bahwa janin saya sehat dan nggak ada masalah. Waktu saya cerita soal kekhawatiran karena dibilang kekurusan, padahal sudah berusaha makan, dokternya bilang. "Bayinya cukup beratnya, kok. Berarti, makanannya ke dedek bayi semua."

Nah, setiap keluar dari ruang konsultasi dokter, saya merasa akan baik-baik saja.

Kalau bidan..., lebih detail bertanya. Mungkin karena saya sudah mendekati waktu melahirkan atau mungkin karena kondisi saya untuk melahirkan secara normal mengkhawatirkan. Hingga akhirnya, mereka memutuskan bahwa saya terlalu beresiko melahirkan secara normal di sana. Nanti saya ceritakan apa saja yang membuat saya akhirnya dirujuk ke rumah sakit.

Jadi, baik bidan maupun dokter sama-sama meyakinkan, sama-sama pilihan yang baik karena mereka mementingkan keselamatan ibu dan bayi. Saran saya, cari dokter atau bidan yang membuat kita merasa nyaman dan tidak tertekan. 

Sebagai seorang ibu, kita perlu menjaga kondisi psikologis juga, kan?


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

“Yang ini cantik, Mas.”
“Nggak, ah. Kurang besar.”
Lagi-lagi, aku ditolak.
Sejak diizinkan Tuhan hadir di bumi, aku sadar bahwa diriku dipersiapkan untuk seseorang yang spesial, bukan orang sembarangan. Meskipun sudah beberapa laki-laki yang menahanku lama, pada akhirnya mereka semua mengembalikanku baik-baik. Belum ada yang bersedia mengeluarkanku dari sini.
Seperti yang baru saja terjadi. Laki-laki itu menolak karena, lagi-lagi, aku dirasa kurang besar.
Memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku sudah diciptakan seperti ini. Menurutku, seluruh bagian tubuhku ini saling melengkapi, sudah sempurna. Memang, ada beberapa kawanku yang akhirnya diberi perbaikan. Mereka menghilang beberapa saat, lalu kembali dengan wujud baru. Biasanya lebih besar, kalau tidak tampak lebih memukau. Hm, apa ya, istilahnya, berkilau. Ya, mereka tampak semakin berkilau.
Tapi pasti sakit sekali prosesnya. Aku bergidik membayangkan tubuhku dirombak. Memang sebaiknya kita menerima di…

Saya nggak gitu, kok... (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedelapan)

Tema Hari Kedelapan Writing Challenge Kampus Fiksi nyuruh curhat beneran apa, yak? “Sebutkan 5 fakta yang berlawanan dengan 5 opini orang lain tentang kamu.”
HitamSejak di bangku sekolah, kawan saya sering menerka-nerka, bagaimana mungkin kulit saya bisa sehitam ini (bahkan telapak tangan saya gelap), sementara kakak-kakak dan adik saya yang jumlahnya bisa bikin tim basket itu putih-putih. Macam-macam prediksi mereka ajukan. Ada yang mengira saya terlalu lama dijemur (dipepe) ketika masih bayi, kelupaan diangkat. Ada yang menduga saya adalah bayi yang tertukar (sinetron kali, ah). Ada pula yang menduga saya ketimpahan oli dan meresap hingga ke kulit. Kampret emang pada omongannya. Tapi ya kami bahas sambil ngakak-ngakak aja. Baru-baru ini, salah satu anak KF juga ada yang nyeletuk: “Mungkin Mbaknya bukan asli Lampung, ya.” Diiringi suara ngakak Wahyu (ini yang terngiang, paling kenceng), dan kawan-kawan yang lain. Karena oh karena, saya sudah pernah cerita sebelumnya bahwa tidak sedikit…

Surat buat Ipal (Writing Challenge Kampus Fiksi Hari Kesembilan)

Ahoi, Ipal.
Nanti kalo udah bisa baca, bolehlah buka-buka blog Emak buat liat tulisan--yang dibuat buru-buru--ini.
Emak nggak inget pernah nggak bikin surat selain surat izin sakit dan surat lamaran kerja. Tapi karena tantangannya begitu dan Emak udah telat dua hari ngumpul, ya bikinlah surat ini.
Udah, ya, gitu aja.
Kalo-kalo kamu beneran baca, bahkan setelah kena omel nanti, tetaplah berusaha merasa beruntung jadi anak Emak. Karena itu takdir~~~hohoho ||--(^o^)>

Bhay, Pal.
Emak.