Langsung ke konten utama

Waktu Melahirkan Sudah Dekat. Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan?

sumber

Bagi sebagian orang, melahirkan adalah hal yang mengerikan. Termasuk bagi saya, tadinya.
Persiapan yang matang dapat membantu mengurangi kekhawatiran.

Apa saja yang perlu dipersiapkan menjelang waktu melahirkan?
Berdasarkan pengalaman saya, ini hal-hal yang perlu dipersiapkan calon ayah dan ibu menjelang kelahiran anak pertama.

Biaya
Biaya ini pasti dibutuhkan, makanya saya masukkan pada poin pertama. Meskipun hampir semua ibu berharap dapat melahirkan secara normal, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Jadi, sebaiknya persiapkan biaya melahirkan secara caesar.
Selain biaya melahirkan, persiapkan juga biaya perawatan bayi setelah lahir.
Akan ada banyak pengeluaran tidak terduga.

Tempat
Memilih tempat untuk melahirkan bisa mulai dilakukan pada waktu memasuki trimester ketiga kehamilan. Kita bisa mulai bertanya-tanya kepada teman-teman, tempat melahirkan yang mereka rekomendasikan. Hal yang perlu diperhatikan adalah dekat jauhnya tempat itu dari rumah kita dan tentu saja biaya melahirkan di sana.
Jika memilih melahirkan rumah sakit yang jauh, misal, karena banyak yang memberi rekomendasi, pilih lagi satu tempat di dekat rumah. Hal ini untuk berjaga-jaga ketika ternyata kita mengalami kondisi darurat.


Keperluan Ibu, Ayah, dan Bayi
Persiapkan keperluan ibu dan ayah selama di rumah sakit dan keperluan bayi yang baru lahir dalam satu atau dua tas yang siap dibawa kapan saja. Jadi, ketika waktu melahirkan datang tiba-tiba, kita nggak perlu ribet nyiapin ini itu, sudah fokus menyiapkan mental saja.

ternyata saya nggak punya foto tas persiapan dulu :'(
Nanti saya rinci apa saja yang perlu dipersiapkan. :)




Kekuatan
Persiapan kekuatan yang saya maksud bukan hanya fisik, tapi juga mental. Masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang lebih suka melihat video melahirkan agar lebih siap, ada yang memilih mendengarkan saja, ada juga yang merasa cukup dengan membaca. Yang penting, sebagai calon orang tua, kita banyak mencari tahu.

Saya baru mengetahui teknik bernapas saat sedang menunggu bukaan di rumah sakit. Itu juga karena untuk mengurangi rasa khawatir, saya ngajak ngobrol para perawat yang beberapa waktu sekali mengecek kondisi kami.

"Napasnya udah tau belum? Nanti geget, ya," katanya.
"Geget itu apa, Mbak?"
"Begini." Dia mempraktikkan posisi mengejan yang baik. "Nggak boleh bersuara."
"Hah?"
"Iya, biar kuat ngedennya. Jangan ngeluarin suara."
"Oh, gitu...."

Runtuh, deh, bayangan teriak-teriak saat melahirkan.
Dan terbukti, saat mengeluarkan suara sedikit saja, kekuatan kita saat mengejan akan berkurang. Cuma, kalau saya nggak bertanya, pasti saya bingung. Dan..., acuan saya apa? Sinetron? *duh*

Selain mental, fisik juga perlu dipersiapkan. Jadi, menjelang melahirkan kita memang disuruh banyak-banyak makan dan minum. Biar tenaga yang terkumpul ekstra dan nggak mudah lemes jika ternyata waktu yang diperlukan untuk mengeluarkan bayi menjadi lebih lama.

Setelah semua siap, kita tinggal berdoa kepada Tuhan agar proses melahirkannya dilancarkan.
Ada yang mau nambahin?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda." "Iya, Bunda, tapi kan...." Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan. Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai. "Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek. Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius? "Tapi, Mama—" Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah." Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus y…

Bayi Harus Dibedong Agar Kakinya Lurus. Bayi Harus Pake Gurita Biar Perutnya Nggak Buncit. Benarkah?

Untuk menjawab pertanyaan apakah bayi harus dibedong, kita harus mengetahui jawaban pertanyaan berikut terlebih dahulu.

Apa sebenarnya tujuan bayi dibedong?

Jawabannya sederhana, agar bayi merasa hangat.

Pagi pertama setelah melahirkan, perawat membawa Kira ke hadapan kami dalam kondisi dibedong rapi. Karena tidak tahu mesti diapakan, dan Kira juga lagi tidur, saya puas-puasin memandangnya saja.
Beberapa waktu kemudian, dokter datang dan bertanya, "Sudah disusui?"
"Belum. Dari tadi masih tidur, Dok."
"Lah, dibangunin aja. Ini bedongnya dibuka biar dia bangun. Kalo dibedong begini ya dia anteng, soalnya ngerasa anget terus."
*dalem hati* "Oh, gitu."
"Dibedong biar anget, nggak perlu terus-terusan dibedong. Dan jangan pakein gurita, ya."
"Iya, Dok."

Setelah tanya ke sana dan ke sini, ternyata pemakaian bedong nggak berpengaruh kepada kaki.
Tapi..., sebagai ibu baru, tetep khawatir ketika masih banyak juga yang bilang kakinya …