Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

“Yang ini cantik, Mas.”
“Nggak, ah. Kurang besar.”
Lagi-lagi, aku ditolak.
Sejak diizinkan Tuhan hadir di bumi, aku sadar bahwa diriku dipersiapkan untuk seseorang yang spesial, bukan orang sembarangan. Meskipun sudah beberapa laki-laki yang menahanku lama, pada akhirnya mereka semua mengembalikanku baik-baik. Belum ada yang bersedia mengeluarkanku dari sini.
Seperti yang baru saja terjadi. Laki-laki itu menolak karena, lagi-lagi, aku dirasa kurang besar.
Memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku sudah diciptakan seperti ini. Menurutku, seluruh bagian tubuhku ini saling melengkapi, sudah sempurna. Memang, ada beberapa kawanku yang akhirnya diberi perbaikan. Mereka menghilang beberapa saat, lalu kembali dengan wujud baru. Biasanya lebih besar, kalau tidak tampak lebih memukau. Hm, apa ya, istilahnya, berkilau. Ya, mereka tampak semakin berkilau.
Tapi pasti sakit sekali prosesnya. Aku bergidik membayangkan tubuhku dirombak. Memang sebaiknya kita menerima di…

Tiga Jenis Pompa ASI yang Saya Pakai

Pengalaman Memakai Pompa ASI
Sejak melahirkan, saya memang memutuskan akan memberikan ASI sebisanya. Karena tidak mahir memeras dengan tangan kosong, saya mulai mencari pompa ASI. Awalnya, bukan untuk Kira ketika ditinggal kerja saya mencari pompa, tetapi untuk Kira yang sedang disinar biru di rumah sakit bilirubinnya tinggi.
Ada tiga pompa yang sudah saya coba, dan ini ulasannya.
Ketika mencari di rumah sakit, suami saya menemukan pompa ASI model pertama.



Pompa ini bentuknya agak membingungkan. Saya tidak paham apa maksud pipa panjang yang menghubungkan pompa dan corong yang melekat pada payudara. Yang pasti, rasanya sangat tidak nyaman dan tidak efisien. 

Saya rasa, karena udara yang seharusnya langsung terpakai sebagai energi pemompa harus melewati liukan pipa itu. Jadi, kekuatannya sudah jauh berkurang sehingga kekuatan menyedot ASI pun minim.
Ini adalah pompa pertama yang saya gunakan, dan pertama kali menggunakannya di rumah sakit. Sungguh, sulit sekali mengeluarkan ASI dengan pompa…

Jawaban Guru Bukan Harga Mati

Malam ini, adik ipar dan bapak mertua saya datang. 

Ketika bertukar cerita, Lela yang masih kelas 2 SMA menyinggung cerpen A.A. Navis, "Robohnya Surau Kami".

"Itu judulnya sesuai nggak, Mbak, sama isinya?" Kening saya sedikit mengernyit. "Sekelas salah semua," lanjut Lela. 
"Kalian jawab apa?" tanya saya.
"Sesuai." 
"Jawaban yang bener apa?" 
"Kata gurunya, nggak sesuai. Kan itu isi ceritanya tentang kakeknya, bukan suraunya."
Saya makin bingung, lalu ngeles dengan berkata, "Wah..., susah sih ya kalo di sekolah." 

Bapak mertua yang ikut menyimak bertanya apa isi cerpen yang kami bicarakan. Suami saya yang menjelaskan. 

"Robohnya Surau Kami" bercerita tentang seorang laki-laki yang terlalu mengejar akhirat hingga mengabaikan urusan dunia, termasuk kewajibannya terhadap anak dan istri. "Oh...." Bapak ngangguk-ngangguk. "Terus jawabannya yang bener apa?" kejar Bapak lagi. 
Setelah ce…