Langsung ke konten utama

Jawaban Guru Bukan Harga Mati

sumber gambar

Malam ini, adik ipar dan bapak mertua saya datang

Ketika bertukar cerita, Lela yang masih kelas 2 SMA menyinggung cerpen A.A. Navis, "Robohnya Surau Kami".

"Itu judulnya sesuai nggak, Mbak, sama isinya?" Kening saya sedikit mengernyit. "Sekelas salah semua," lanjut Lela. 
"Kalian jawab apa?" tanya saya.
"Sesuai." 
"Jawaban yang bener apa?" 
"Kata gurunya, nggak sesuai. Kan itu isi ceritanya tentang kakeknya, bukan suraunya."
Saya makin bingung, lalu ngeles dengan berkata, "Wah..., susah sih ya kalo di sekolah." 

Bapak mertua yang ikut menyimak bertanya apa isi cerpen yang kami bicarakan. Suami saya yang menjelaskan. 

"Robohnya Surau Kami" bercerita tentang seorang laki-laki yang terlalu mengejar akhirat hingga mengabaikan urusan dunia, termasuk kewajibannya terhadap anak dan istri. 
"Oh...." Bapak ngangguk-ngangguk. "Terus jawabannya yang bener apa?" kejar Bapak lagi. 
Setelah cengar-cengir sebentar, dan ternyata Bapak masih nunggu jawaban, sementara suami lagi sibuk pegang anak, saya coba jelaskan. 

Kalau menurut saya, judul adalah hak penulis. Dan sepanjang pengetahuan saya, nggak ada konflik di ranah sastra tentang judul cerpen ini. Menurut saya lagi, judul cerpen ini sesuai. Memang, yang diceritakan adalah tentang si kakek yang melulu berada di surau dan bukan tentang suraunya. Tapi kan jelas judul itu adalah simbolis. 

Surau itu bukan roboh dalam arti sebenarnya. Tapi ketika orang yang rajin berkutat di dalam surau itu tidak memahami ajaran agama, bahkan keliru, maka itu sama saja meruntuhkan kepercayaan orang terhadap agama yang dianutnya. 

Oke, itu memang ulasan lapis atas, nggak dalem.
Kalau mau lebih detail, sudah banyak penelitian tentang cerpen ini. Intinya, tentu saja isi dan judul cerpen itu sesuai. 

Saya tidak mengerti alasan guru Lela. Judul kan tidak melulu harus eksplisit.

Berkunjung ke Rumah Nenek. 
Berlibur di Desa. 
Murid Baru. 

Kan mereka sudah SMA. Dan yang dibahas cerpen ini pula. 

Pertanyaan selanjutnya, "Kalo gaya bahasa yang digunakan apa, Mbak?" 
Saya hening lagi, bingung mau jawab gimana. 
"Gurunya jawab apa?" Lagi-lagi, saya balik bertanya. 
"Nggak jawab." 

Lalu suami saya berkomentar bahwa pertanyaan itu luas sekali jangkauannya. *udah kayak provider aja* Maksudnya, nggak jelas. Gurunya mau jawaban apa? Gaya penulis kan sendiri-sendiri. Memang ada klasifikasi? 

Saya menebak, "Mungkin maksudnya majas?"
"Ya kalau itu yang dimau, malah pertanyaannya ganti aja," kata suami saya. 
Iya juga, sih. 

Bapak bertanya lagi, "Memang nggak ada teori pasti ya kalau sastra?" 
Nah.... Bapak adalah guru fisika, ilmu pasti. Mungkin karena terbiasa dengan teori atau rumus, pertanyaan ini pun tercetus.

Kami berusaha menjelaskan. Tentu saja ada. Tapi, untuk judul dan gaya bahasa (di sini maksud kami gaya penulis) nggak ada yang pasti. Itu hak penulis, dan masing-masing pembaca juga berhak menilai. Inilah tadi yang membuat saya sempat menimbang-nimbang memberi jawaban. Kadang, kalau di sekolah kan semua ada benar dan salah. Seakan-akan semua hitam dan putih. Sementara dalam menilai karya sastra, nggak melulu demikian. Kadang jawabannya subjektif sekali.

Lalu bagaimana menentukan, misal, apakah judul cerpen "Robohnya Surau Kami" sesuai isinya atau tidak? Tergantung argumen masing-masing. Bagi saya sesuai. Bagi guru Lela tidak sesuai. Tapi, alasan sang guru di sini lemah sekali. Cenderung mengkhawatirkan sih sebenernya guru ini. Jika ditilik dari alasan jawabannya, kelihatannya seolah dia sendiri tidak mengerti mengenai cerpen ini.

Solusi bagi sang guru sebenarnya sederhana. Ada banyak hal lain yang lebih "aman" yang bisa dia bahas dari cerpen itu. Hal-hal umum yang biasanya muncul di soal ujian nasional, seperti tema, tokoh utama, setting tempat, setting waktu, sudut pandang penceritaan. Dan, tentu saja memperbanyak referensi dengan membaca karya sastra serta ulasannya karena dia guru bahasa Indonesia.


Guru memang memiliki beban tanggung jawab yang luar biasa. Kadang bukan hanya atas ucapannya, bahkan hingga tingkah lakunya di luar lingkungan sekolah. Sesuai dengan asal katanya, guru adalah orang yang digugu dan ditiru.

Ketika guru berbicara, kadang kekuatannya seperti sabda. Isinya akan diiyakan saja oleh sebagian besar murid. Disepakati sebagai jawaban paling benar. Sebagian karena tidak mau memperpanjang diskusi, sebagian karena memang belum mengerti dan menerima ucapan guru sebagai harga mati, kebenaran pasti. Seperti adik ipar saya, yang menerima jawaban gurunya, walau pikirannya masih terusik karena masih ada yang mengganjal, sesuatu yang tidak bisa dia terima tapi tidak tahu di mana. Akhirnya, dalam kebingungan, dia menerima jawaban sang guru sebagai kebenaran.

Saya hanya bisa berharap Lela dan kawan-kawannya kelak ketika membaca cerpen atau novel tidak sibuk berkutat dengan cocok atau tidak judul dengan isi, melainkan lebih kepada pelajaran apa yang mereka tangkap dari isi cerpen atau novel itu, lalu mendiskusikannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Tiga Jenis Pompa ASI yang Saya Pakai

Pengalaman Memakai Pompa ASI
Sejak melahirkan, saya memang memutuskan akan memberikan ASI sebisanya. Karena tidak mahir memeras dengan tangan kosong, saya mulai mencari pompa ASI. Awalnya, bukan untuk Kira ketika ditinggal kerja saya mencari pompa, tetapi untuk Kira yang sedang disinar biru di rumah sakit bilirubinnya tinggi.
Ada tiga pompa yang sudah saya coba, dan ini ulasannya.
Ketika mencari di rumah sakit, suami saya menemukan pompa ASI model pertama.



Pompa ini bentuknya agak membingungkan. Saya tidak paham apa maksud pipa panjang yang menghubungkan pompa dan corong yang melekat pada payudara. Yang pasti, rasanya sangat tidak nyaman dan tidak efisien. 

Saya rasa, karena udara yang seharusnya langsung terpakai sebagai energi pemompa harus melewati liukan pipa itu. Jadi, kekuatannya sudah jauh berkurang sehingga kekuatan menyedot ASI pun minim.
Ini adalah pompa pertama yang saya gunakan, dan pertama kali menggunakannya di rumah sakit. Sungguh, sulit sekali mengeluarkan ASI dengan pompa…

Saya nggak gitu, kok... (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedelapan)

Tema Hari Kedelapan Writing Challenge Kampus Fiksi nyuruh curhat beneran apa, yak? “Sebutkan 5 fakta yang berlawanan dengan 5 opini orang lain tentang kamu.”
HitamSejak di bangku sekolah, kawan saya sering menerka-nerka, bagaimana mungkin kulit saya bisa sehitam ini (bahkan telapak tangan saya gelap), sementara kakak-kakak dan adik saya yang jumlahnya bisa bikin tim basket itu putih-putih. Macam-macam prediksi mereka ajukan. Ada yang mengira saya terlalu lama dijemur (dipepe) ketika masih bayi, kelupaan diangkat. Ada yang menduga saya adalah bayi yang tertukar (sinetron kali, ah). Ada pula yang menduga saya ketimpahan oli dan meresap hingga ke kulit. Kampret emang pada omongannya. Tapi ya kami bahas sambil ngakak-ngakak aja. Baru-baru ini, salah satu anak KF juga ada yang nyeletuk: “Mungkin Mbaknya bukan asli Lampung, ya.” Diiringi suara ngakak Wahyu (ini yang terngiang, paling kenceng), dan kawan-kawan yang lain. Karena oh karena, saya sudah pernah cerita sebelumnya bahwa tidak sedikit…