Langsung ke konten utama

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)


sumber gambar

Saksi Mata
(Cerpen Muhajjah Saratini)


“Yang ini cantik, Mas.”

“Nggak, ah. Kurang besar.”

Lagi-lagi, aku ditolak.

Sejak diizinkan Tuhan hadir di bumi, aku sadar bahwa diriku dipersiapkan untuk seseorang yang spesial, bukan orang sembarangan. Meskipun sudah beberapa laki-laki yang menahanku lama, pada akhirnya mereka semua mengembalikanku baik-baik. Belum ada yang bersedia mengeluarkanku dari sini.

Seperti yang baru saja terjadi. Laki-laki itu menolak karena, lagi-lagi, aku dirasa kurang besar.

Memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku sudah diciptakan seperti ini. Menurutku, seluruh bagian tubuhku ini saling melengkapi, sudah sempurna. Memang, ada beberapa kawanku yang akhirnya diberi perbaikan. Mereka menghilang beberapa saat, lalu kembali dengan wujud baru. Biasanya lebih besar, kalau tidak tampak lebih memukau. Hm, apa ya, istilahnya, berkilau. Ya, mereka tampak semakin berkilau.

Tapi pasti sakit sekali prosesnya. Aku bergidik membayangkan tubuhku dirombak. Memang sebaiknya kita menerima diri apa adanya.

Aku hanya perlu menunggu orang yang tepat.

Dan orang itu datang tak lama kemudian.

***

Laki-laki kali ini bernama Rama, lengkapnya Parama, lengkapnya lagi aku belum tahu. Sudah berkutat memperhatikanku selama beberapa jam, penuh pertimbangan, sebelum akhirnya membawaku keluar.

Baiklah, aku tidak boleh terlalu gembira, walau kurasa jantungku hampir loncat ketika aku sudah ikut masuk ke dalam mobilnya. Akhirnya…, akhirnya aku terpilih! Rasanya ingin berteriak begitu. Tapi, bukankah masih ada kemungkinan aku akan dikembalikan? Oke, tarik napas. Aku tidak boleh terlalu berharap. Semakin tinggi harapanmu akan semakin sakit yang kau rasakan. Itu yang kupelajari setelah terlalu sering berharap.

Selama perjalanan, Rama sibuk menelepon.

“Hai, sudah berangkat?”

….

“Oh. Kapan selesai?”

….

“Baiklah. Aku tunggu. Pastikan saja kau datang.”

Sepertimu, aku juga bertanya-tanya, siapa yang dia telepon? Siapa namanya, kerja apa sampai sulit ditemui, dan yang lebih penting, seperti apa orangnya.

***

Namanya Kana, gadis yang ditelepon Rama malam itu.

Dia cantik. Cantik sekali. Hanya itu yang dapat kugunakan untuk mendefinisikan dirinya. Bukan tipe cantik anggun yang kalem, tapi cantik yang menggairahkan. Bahkan aku bisa merasakan kekuatan pesona Kana pada para pria di sekitarnya ketika dia lewat, padahal hanya lewat. Dan sekarang, aku yang melingkar manis di jari manis tangan kirinya pun ikut terlihat lebih berkilau dari yang seharusnya hanya karena dia yang memakai. Oke, aku berlebihan barusan.

Sudah dua hari aku berpindah dari kotak yang dibawa Rama ke jemari Kana. Dan dia memperlakukanku dengan penuh pengertian. Buktinya, dia menjaga agar aku tidak terkena semprotan parfum dan hairspray yang dia gunakan. Kana memang selalu berusaha menjaga penampilannya agar tetap terlihat memesona. Padahal, ketika malam tiba dan dia bersiap tidur hanya mengenakan pakaian tidurnya yang tipis itu pun, dia tetap menawan.

Baju tidur tipis yang kuceritakan barusan biasanya sudah dia kenakan menjelang tengah malam begini. Tapi…, kenapa Kana sekarang malah berdandan? Aku masih berusaha menyesuaikan diri dengan kebiasaan Kana, dan hanya bisa menduga-duga ke mana tujuannya malam ini.

Mobil yang dikemudikan Kana berhenti di restoran yang belum pernah kukunjungi. Dengan langkah mantap, aku dibawanya menuju sebuah meja yang sudah diduduki oleh seorang pria. Dan pria itu bukan Rama.

“Sudah lama?” tanya Kana, lalu mengecup pipi kiri dan kanan pemuda ini. Siapa dia?

“Lumayan,” jawab pemuda asing ini singkat. Dari matanya, kau bisa melihat kekaguman yang memuja. Tentu saja, yang sedang dilihatnya adalah Kana.

Setelah pelayan membawakan pesanan Kana—hanya segelas latte—pemuda ini bertanya lagi, “Tumben meminta bertemu di luar? Ada yang mau dibicarakan?”

“Rama melamarku.” Saat mengatakan ini, aku bisa dilihat dengan jelas oleh si pemuda karena tangan Kana sedang memegang cuping cangkir latte-nya. Dari tatapannya kepadaku, aku tahu pemuda itu tidak menyukaiku.

Suaranya mendadak ketus ketika ia bertanya, “Kamu terima?”

Kana hanya mengangguk.

“Hanya karena cincin itu? Berliannya bahkan tidak terlihat jika tidak menggunakan kaca pembesar. Aku bisa membelikan yang lebih besar, Kana,” ucapnya berapi-api. Iya, kelihatan sih kalau dia memiliki uang lebih untuk mendukung penampilannya. Rama juga keren, kok. Walau laki-laki ini terlihat lebih… apa, ya, berkelas.

“Ya. Tapi bukan itu yang penting. Aku bukan tipe wanita yang menakar cinta seseorang berdasarkan besarnya batu berlian yang dia berikan, kau tahu itu, Za.” Kana lalu menyesap latte-nya setelah berkata begitu. Sementara wajah pemuda bernama Za itu mengeras di hadapan kami.

“Dan kau tahu bahwa aku perlu waktu,” kata Za.

“Dua tahun kurasa lebih dari cukup untukku menunggu,” Kana meletakkan cangkirnya dengan hati-hati sebelum meneruskan kalimatnya. “Kau tidak berniat meninggalkan istrimu, Za.”

“Jadi kau jauh-jauh memanggilku ke sini hanya untuk mengucapkan selamat tinggal?”

Kana tidak menjawab.

Wajah Za menggelap.

Aku baru bisa memerhatikan bahwa ekspresi wajah Kana sejak tadi tidak banyak berubah. Wajahnya sedatar suaranya. Matanya hampir kosong, seakan gadis ini tidak seutuhnya berada di sini.

“Dia memintaku menjadi istrinya, Za. Sungguh-sungguh menginginkanku menjadi pendamping hidupnya….”

“Aku tidak mau dengar,” potong Za segera.

“Memang. Kau tidak pernah mau mendengarkan aku. Sama seperti permintaanku untuk kau nikahi yang tidak akan pernah kau sanggupi.”

Selesai berkata demikian, Kana beranjak. Suara tak tak yang tercipta dari stiletto-nya menggema di restoran yang pengunjungnya tidak ramai ini. Langkahnya terdengar semantap keputusannya tadi. Hingga ketika kami tiba di mobil, badan Kana bergetar. Dia sesenggukan. Aku menggigil, kuyup oleh air matanya.

***

Aku percaya, masing-masing kita dipersiapkan untuk seseorang yang spesial selama kita mau bersabar. Sudah hampir tiga bulan aku di tangan Kana, dan menjadi saksi kisah cintanya dengan Rama. 

Kisah baru yang berusaha dia bangun setelah meninggalkan pemuda bernama Za itu. Aku yang menjadi saksi bahwa malam-malam Kana kadang masih ditemani air mata. Betapa sebenarnya dia mencintai pemuda beristri itu. Sampai saat ini, aku tak tahu apakah Kana menjalin hubungan dengan Za dulu baru bertemu Rama atau sebaliknya, menjalin hubungan dengan Rama dulu baru kemudian bertemu Za. Yang aku tahu pasti, perlahan-lahan, tangis Kana semakin jarang.

Rama mungkin tidak mampu, eh, belum mampu membelikan berlian yang lebih besar, tetapi yang pasti cintanya kepada Kana tidak sebatas ucapan. Itu yang penting.

Dan sekarang, sejoli ini sedang sibuk berdebat, bagaimana bentuk rumah yang akan mereka bangun. Dan aku bahagia menjadi salah satu saksi mata kebahagiaan mereka.(*)


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti 
Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” 
#KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda." "Iya, Bunda, tapi kan...." Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan. Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai. "Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek. Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius? "Tapi, Mama—" Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah." Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus y…

Bayi Harus Dibedong Agar Kakinya Lurus. Bayi Harus Pake Gurita Biar Perutnya Nggak Buncit. Benarkah?

Untuk menjawab pertanyaan apakah bayi harus dibedong, kita harus mengetahui jawaban pertanyaan berikut terlebih dahulu.

Apa sebenarnya tujuan bayi dibedong?

Jawabannya sederhana, agar bayi merasa hangat.

Pagi pertama setelah melahirkan, perawat membawa Kira ke hadapan kami dalam kondisi dibedong rapi. Karena tidak tahu mesti diapakan, dan Kira juga lagi tidur, saya puas-puasin memandangnya saja.
Beberapa waktu kemudian, dokter datang dan bertanya, "Sudah disusui?"
"Belum. Dari tadi masih tidur, Dok."
"Lah, dibangunin aja. Ini bedongnya dibuka biar dia bangun. Kalo dibedong begini ya dia anteng, soalnya ngerasa anget terus."
*dalem hati* "Oh, gitu."
"Dibedong biar anget, nggak perlu terus-terusan dibedong. Dan jangan pakein gurita, ya."
"Iya, Dok."

Setelah tanya ke sana dan ke sini, ternyata pemakaian bedong nggak berpengaruh kepada kaki.
Tapi..., sebagai ibu baru, tetep khawatir ketika masih banyak juga yang bilang kakinya …