Langsung ke konten utama

Tiga Jenis Pompa ASI yang Saya Pakai

Pengalaman Memakai Pompa ASI

Sejak melahirkan, saya memang memutuskan akan memberikan ASI sebisanya. Karena tidak mahir memeras dengan tangan kosong, saya mulai mencari pompa ASI.
Awalnya, bukan untuk Kira ketika ditinggal kerja saya mencari pompa, tetapi untuk Kira yang sedang disinar biru di rumah sakit bilirubinnya tinggi.

Ada tiga pompa yang sudah saya coba, dan ini ulasannya.

Ketika mencari di rumah sakit, suami saya menemukan pompa ASI model pertama.

Ini sebelum dirangkai.
Sebenarnya, ada botol penampungnya.

Seperti ini ketika sudah dirangkai.


Pompa ini bentuknya agak membingungkan. Saya tidak paham apa maksud pipa panjang yang menghubungkan pompa dan corong yang melekat pada payudara. Yang pasti, rasanya sangat tidak nyaman dan tidak efisien. 

Saya rasa, karena udara yang seharusnya langsung terpakai sebagai energi pemompa harus melewati liukan pipa itu. Jadi, kekuatannya sudah jauh berkurang sehingga kekuatan menyedot ASI pun minim.

Ini adalah pompa pertama yang saya gunakan, dan pertama kali menggunakannya di rumah sakit. Sungguh, sulit sekali mengeluarkan ASI dengan pompa model begini.

Saya hanya mendapatkan 15ml. Dan perawat yang tidak puas menyarankan saya memilih susu formula untuk Kira karena sudah malam dan saya belum istirahat dari pagi.


Sampai di rumah, saya minta suami untuk segera mencarikan lagi pompa model lain. Suami kembali dengan membawa pompa model kedua

Bentuknya seperti klakson sepeda zaman dulu. 


ASI langsung tertampung di lekukan kecil itu.

Pompa ini sangat praktis. ASI saya lebih cepat keluar karena ASI dari payudara langsung masuk ke penampung ASI yang kecil itu, dan bisa langsung kita pindah ke botol.

Tentu saja saya senang. Saya bisa mengumpulkan satu botol hampir penuh (sekitar 100ml) dan segera diantar suami ke rumah sakit.

Tapi, kemudian kami menyadari. Pemompanya (yang berwarna merah) terbuat dari karet. Dan kalau tidak hati-hati sekali, ASI yang tertampung kadang menyenggol karet. Apakah ini aman dikonsumsi bayi?

Jadi, saya mulai gugling dan menemukan informasi pemakaian ASI di situs mamaurban.com. Saya baru mengerti bahwa pompa ini bukan untuk ASI yang dikonsumsi, tapi ASI yang tidak baik, yang harus dibuang. Sementara, untuk ASI yang dikonsumsi, alat-alatnya sebaiknya yang semua bagiannya bisa disterilkan. Jadi, saya mulai membaca pengalaman ibu-ibu lain.

Ada berbagai jenis, merek, dan harga. Saya memang hanya tertarik pada yang manual. Dan, yang paling banyak mendapat rekomendasi, dan harganya masih dapat dijangkau adalah Avent keluaran Philips.

Waktu gugling, harganya sekitar 800 ribu, Bukan nilai sedikit bagi kami. Tapi, jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk susu formula, sepertinya jauh lebih murah. Dan banyak tulisan ibu-ibu yang menguatkan bahwa ASI adalah yang terbaik. Karena itu, suami mulai mencari. Ternyata, sulit mencari pompa merek ini. Dan saya termasuk orang yang sulit. Jika sudah suka, ya suka—padahal belum pernah pakai langsung. Jadi, suami mengambil foto beberapa merek lain, dan saya tolak. Akhirnya, suami berhasil menemukan di toko lain—setelah entah berapa toko dia datangi. Stok di toko itu tinggal satu, dan tidak diketahui harganya. Suami bercerita, semua petugas di sana tidak ada yang tahu sehingga mereka sampai mengecek di buku besar toko, dan ketika tidak menemukannya juga, mereka menelepon ke kantor pusat—entah di mana. Setelah proses transaksi yang lama, akhirnya suami berhasil membawa pulang pompa model ketiga ini.

Botol tampungan bisa langsung diberikan ke bayi.
Sebenarnya ada bagian tutup botol dan dot dari Avent, tapi tidak terfoto.

Efisien.

Kendala yang ditulis ibu-ibu mengenai Avent adalah banyak pritilannya, detailnya. Tapi, kalau sudah terbiasa memang tidak terasa. 

Avent sudah menemani saya memberikan ASI untuk Kira selama setahun, sebelum akhirnya Kira menolak minum ASI karena saya stop seminggu. Saat itu, saya harus konsumsi antibiotik tinggi karena habis cabut gigi. Lain kesempatan saya ceritakan.


Manfaat ASI memang terbukti. Ketika Kira tidak buang air besar selama hampir seminggu, dokter hanya berkata, “Nggak apa-apa, masih ASI, kan? Kasih ASI aja terus.” Begitu pula saat ada keluhan lain. Dokter hanya berkata, “Terus berikan ASI sampai 6 bulan.”
Kira termasuk jarang sakit, dan saya sangat bersyukur.

Sampai saat ini, Kira tidak lagi mengonsumsi susu. Sejak berhenti minum ASI, Kira tidak serta-merta mau mengonsumsi susu formula. Tidak sedikit orang dekat yang khawatir. Awalnya, saya sempat khawatir. Tapi, saya baca-baca, kandungan susu formula dapat digantikan dengan makanan lain. Jadi, selama makanannya diberikan seimbang, saya yakin Kira akan baik-baik saja.



Komentar

  1. Hihihi. Seru juga pakai pompa ASI. Saya kebetulan enggak pakai. Dulu pijat urut sendiri juga mudah dan banter. Terima kasih sharingnya, Bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak.
      Wah, beruntung banget bisa pijat urut sendiri. :'(
      Saya blas nggak bisa.
      Sudah diajarin perawat, nyoba berkali-kali, tetep nggak bisa. (>_<")

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Saya nggak gitu, kok... (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedelapan)

Tema Hari Kedelapan Writing Challenge Kampus Fiksi nyuruh curhat beneran apa, yak? “Sebutkan 5 fakta yang berlawanan dengan 5 opini orang lain tentang kamu.”
HitamSejak di bangku sekolah, kawan saya sering menerka-nerka, bagaimana mungkin kulit saya bisa sehitam ini (bahkan telapak tangan saya gelap), sementara kakak-kakak dan adik saya yang jumlahnya bisa bikin tim basket itu putih-putih. Macam-macam prediksi mereka ajukan. Ada yang mengira saya terlalu lama dijemur (dipepe) ketika masih bayi, kelupaan diangkat. Ada yang menduga saya adalah bayi yang tertukar (sinetron kali, ah). Ada pula yang menduga saya ketimpahan oli dan meresap hingga ke kulit. Kampret emang pada omongannya. Tapi ya kami bahas sambil ngakak-ngakak aja. Baru-baru ini, salah satu anak KF juga ada yang nyeletuk: “Mungkin Mbaknya bukan asli Lampung, ya.” Diiringi suara ngakak Wahyu (ini yang terngiang, paling kenceng), dan kawan-kawan yang lain. Karena oh karena, saya sudah pernah cerita sebelumnya bahwa tidak sedikit…