Langsung ke konten utama

Karena 25ribu Bisa untuk Beli Buku--antara kesehatan dan pendidikan

sumber

Beberapa waktu lalu, saya dan suami mengurus penambahan anggota BPJS, memasukkan Kira ke dalam anggota baru.
Ketika pulang, salah seorang tetangga bertanya.

T (tetangga)
S (Saya)

T: “Berapa, Bu, paling murah bayarnya?”
S: “25ribuan. Katanya sih tadi, mulai ke depannya kalo belum punya BPJS nggak bisa bikin SIM, Paspor, dan apa gitu.”
T: “Wah, masak?”
S: “Tulisannya sih gitu. Mungkin bukan nggak bisa sama sekali, ya, cuma bakal agak sulit. Nggak daftar, Bu?”
T: “Wah, ya 25 dikali 5 (anggota keluarganya 5) ya lumayan, Bu. Setiap bulan.”
S: (Agak tersentak) “He…, iya, ya….”

Setelah percakapan itu, saya baru berpikir. Benar juga. Mungkin, 25ribu terlihat tidak seberapa. Tapi, jika anggota keluarga ada banyak, tentu terasa berat. Menyisihkan 125ribu setiap bulan bukan perkara mudah bagi sebagian masyarakat Indonesia. Lebih baik, mereka menyisihkan uang itu untuk biaya pendidikan—yang juga tidak murah.

Lain waktu, salah satu tetangga kecelakaan. Bagian dadanya terhantam setang motor. Kejadiannya sore hari. Dan tetangga menunggu keesokan paginya untuk periksa. Padahal, sakitnya sampai tangan tidak dapat diangkat. Keesokan paginya, di puskesmas, petugas menyarankan rontgen. Dan…, karena memikirkan kemungkinan biaya yang tidak sedikit, tetangga menolak. Petugas puskesmas sampai meminta ia menandatangani surat pernyataan bahwa dia yang menolak saran petugas. Bahwa ia sudah menjalankan kewajibannya sebagai petugas kesehatan. Tetangga setuju. Ia tanda tangan.

Sampai di rumah, tetangga bersiap kembali ke kota asalnya.
Memilih periksa lanjutan di sana.

Kenapa?

Karena, kartu jamkesmas miliknya hanya dapat digunakan di sana.
Beberapa hari kemudian, kami dapat kabar bahwa dia baik-baik saja. Untunglah tidak sampai retak.

Dua pengalaman itu menyadarkan saya yang selama ini memang jarang bersosialisasi dengan tetangga sejak kecil, bahwa BPJS belum menyentuh sasaran. Di tempat antrean BPJS, saya rasa yang antre adalah golongan ekonomi menengah ke bawah, memang. Tapi, tidak sampai ke rakyat miskin. Ke tingkat yang lebih bawah. Kepada mereka, wiraswasta mini, yang merasa bahwa menyisihkan uang demi makan dan pendidikan jauh lebih penting daripada demi kesehatan. Karena sakit tidak setiap hari, sementara perut harus terus diisi.

Jika perut tidak tercukupi, emosi mudah tersulut, dan bekerja pun susah konsentrasi. Hasilnya, pendapatan tidak maksimal.

Sementara, jika pendidikan tidak diperjuangkan, kapan akan ada perubahan?

Karena itu, kesehatan terpaksa disisihkan.


Sesak, memang. Namun, kenyataannya seperti itu. Masih banyak yang memilih menyingkirkan kesehatan dari list pengeluaran bulanan. Demi makanan dan pendidikan. 

Mungkin, ini hanya terjadi di sekitar lingkungan saya tinggal. Mungkin, lebih luas lagi.
Mungkin, efek baik BPJS yang masih berusia muda ini memang belum dapat terlihat. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

“Yang ini cantik, Mas.”
“Nggak, ah. Kurang besar.”
Lagi-lagi, aku ditolak.
Sejak diizinkan Tuhan hadir di bumi, aku sadar bahwa diriku dipersiapkan untuk seseorang yang spesial, bukan orang sembarangan. Meskipun sudah beberapa laki-laki yang menahanku lama, pada akhirnya mereka semua mengembalikanku baik-baik. Belum ada yang bersedia mengeluarkanku dari sini.
Seperti yang baru saja terjadi. Laki-laki itu menolak karena, lagi-lagi, aku dirasa kurang besar.
Memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku sudah diciptakan seperti ini. Menurutku, seluruh bagian tubuhku ini saling melengkapi, sudah sempurna. Memang, ada beberapa kawanku yang akhirnya diberi perbaikan. Mereka menghilang beberapa saat, lalu kembali dengan wujud baru. Biasanya lebih besar, kalau tidak tampak lebih memukau. Hm, apa ya, istilahnya, berkilau. Ya, mereka tampak semakin berkilau.
Tapi pasti sakit sekali prosesnya. Aku bergidik membayangkan tubuhku dirombak. Memang sebaiknya kita menerima di…

Saya nggak gitu, kok... (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedelapan)

Tema Hari Kedelapan Writing Challenge Kampus Fiksi nyuruh curhat beneran apa, yak? “Sebutkan 5 fakta yang berlawanan dengan 5 opini orang lain tentang kamu.”
HitamSejak di bangku sekolah, kawan saya sering menerka-nerka, bagaimana mungkin kulit saya bisa sehitam ini (bahkan telapak tangan saya gelap), sementara kakak-kakak dan adik saya yang jumlahnya bisa bikin tim basket itu putih-putih. Macam-macam prediksi mereka ajukan. Ada yang mengira saya terlalu lama dijemur (dipepe) ketika masih bayi, kelupaan diangkat. Ada yang menduga saya adalah bayi yang tertukar (sinetron kali, ah). Ada pula yang menduga saya ketimpahan oli dan meresap hingga ke kulit. Kampret emang pada omongannya. Tapi ya kami bahas sambil ngakak-ngakak aja. Baru-baru ini, salah satu anak KF juga ada yang nyeletuk: “Mungkin Mbaknya bukan asli Lampung, ya.” Diiringi suara ngakak Wahyu (ini yang terngiang, paling kenceng), dan kawan-kawan yang lain. Karena oh karena, saya sudah pernah cerita sebelumnya bahwa tidak sedikit…

Surat buat Ipal (Writing Challenge Kampus Fiksi Hari Kesembilan)

Ahoi, Ipal.
Nanti kalo udah bisa baca, bolehlah buka-buka blog Emak buat liat tulisan--yang dibuat buru-buru--ini.
Emak nggak inget pernah nggak bikin surat selain surat izin sakit dan surat lamaran kerja. Tapi karena tantangannya begitu dan Emak udah telat dua hari ngumpul, ya bikinlah surat ini.
Udah, ya, gitu aja.
Kalo-kalo kamu beneran baca, bahkan setelah kena omel nanti, tetaplah berusaha merasa beruntung jadi anak Emak. Karena itu takdir~~~hohoho ||--(^o^)>

Bhay, Pal.
Emak.