Langsung ke konten utama

Cek Kemasan Makanan di Sekitar, Sekarang, demi Orang-Orang Tersayang



Kira kalo makan nggak santai


Punya anak atau keponakan atau tetangga yang masih balita memang menyenangkan. Kita rela menyisihkan uang untuk membelikannya sedikit jajan agar dia tertawa bahagia. Agar kita bisa melihatnya bersemangat melahap makanan yang kita berikan.

Atau, ketika sedang bertamu ke rumah saudara, kita disuguhi minum. Dan meminumnya bersama dengan balita kita yang penasaran dengan warnanya yang menawan.

Bisa juga posisi kita sebagai tuan rumah. Seorang kawan lama berkunjung. Kondisinya sedang menyusui, dan cuaca sedang panas-panasnya. Karena mengerti bahwa ibu menyusui harus banyak makan dan minum, dengan tujuan baik, kita menyuguhkan minuman dingin yang manis. Maksud hati ingin meringankan beban kawan, tapi bagaimana jika tindakan kita justru membahayakan ia dan bayi yang bergantung kepadanya?


makanan 1 yang ketemu peringatan
Kenyataannya, beberapa jajanan di luar sana tidak disarankan untuk ibu hamil dan menyusui, serta anak-anak di bawah lima tahun karena mengandung pemanis buatan.



Sebaiknya kalian tahu, karena sebenarnya peringatan tersebut bukan hanya untuk ibu hamil dan menyusui, tapi kita semua. Karena bisa jadi, seperti contoh kasus di atas tadi, justru kita yang menjadi perantara sehingga mereka mengonsumsi makanan tersebut.



Tulisan peringatan itu memang keciiiiillll… sekali, sehingga jarang kita perhatikan. Meskipun demikian, peringatan itu tetap ada. Entah mengapa dibuat sekecil itu, bisa jadi karena bagaimanapun bentuknya, peringatan sering dianggap mengkhawatirkan. Akibatnya, bisa berpengaruh pada penjualan.







Cara terbaik adalah kita sebagai konsumen yang harus lebih teliti sebelum membeli, serta cermat sebelum menyuguhkan.
Mengenai risiko yang mungkin ditimbulkan oleh pemanis buatan bisa dilihat di sini.

Menurut saya, tetap masih mending mereka mau mencetak peringatan tersebut, meskipun sangat kecil, daripada produsen yang tidak mencantumkannya meskipun mengetahui produk mereka sama berbahaya jika dikonsumsi ibu hamil dan menyusui atau balita.

Ketika merencanakan menulis mengenai hal ini beberapa waktu lalu, saya menemukan tiga makanan dan minuman yang memberi peringatan tersebut.


makanan 2


makanan 3


Kamu juga bisa mengecek berapa banyak makanan dan minuman serupa di sekitarmu, sekarang.

Dan mulai saling mengingatkan orang tersayang di sekitar.


Komentar

  1. Aaak....makasi infonya Ajaaah! Btw blog gw jg penuh sarang laba-laba ahahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahahh... kalo g nawaitu emang susah, yak... konsisten nulis...
      Betewe, kangen cerpen lu, Nggiii....

      Hapus
  2. Artikelnya simpel tapi sangat bermanfaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Raafiii... :D
      Berdasarkan pengalaman pribadi, biar nggak banyak yang ikut ngalamin...

      Hapus

  3. For most recent news you have to pay a quick visit internet and on world-wide-web I found this website as a finest website for latest updates. paypal credit login

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda." "Iya, Bunda, tapi kan...." Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan. Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai. "Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek. Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius? "Tapi, Mama—" Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah." Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus y…

Bayi Harus Dibedong Agar Kakinya Lurus. Bayi Harus Pake Gurita Biar Perutnya Nggak Buncit. Benarkah?

Untuk menjawab pertanyaan apakah bayi harus dibedong, kita harus mengetahui jawaban pertanyaan berikut terlebih dahulu.

Apa sebenarnya tujuan bayi dibedong?

Jawabannya sederhana, agar bayi merasa hangat.

Pagi pertama setelah melahirkan, perawat membawa Kira ke hadapan kami dalam kondisi dibedong rapi. Karena tidak tahu mesti diapakan, dan Kira juga lagi tidur, saya puas-puasin memandangnya saja.
Beberapa waktu kemudian, dokter datang dan bertanya, "Sudah disusui?"
"Belum. Dari tadi masih tidur, Dok."
"Lah, dibangunin aja. Ini bedongnya dibuka biar dia bangun. Kalo dibedong begini ya dia anteng, soalnya ngerasa anget terus."
*dalem hati* "Oh, gitu."
"Dibedong biar anget, nggak perlu terus-terusan dibedong. Dan jangan pakein gurita, ya."
"Iya, Dok."

Setelah tanya ke sana dan ke sini, ternyata pemakaian bedong nggak berpengaruh kepada kaki.
Tapi..., sebagai ibu baru, tetep khawatir ketika masih banyak juga yang bilang kakinya …

Surat buat Ipal (Writing Challenge Kampus Fiksi Hari Kesembilan)

Ahoi, Ipal.
Nanti kalo udah bisa baca, bolehlah buka-buka blog Emak buat liat tulisan--yang dibuat buru-buru--ini.
Emak nggak inget pernah nggak bikin surat selain surat izin sakit dan surat lamaran kerja. Tapi karena tantangannya begitu dan Emak udah telat dua hari ngumpul, ya bikinlah surat ini.
Udah, ya, gitu aja.
Kalo-kalo kamu beneran baca, bahkan setelah kena omel nanti, tetaplah berusaha merasa beruntung jadi anak Emak. Karena itu takdir~~~hohoho ||--(^o^)>

Bhay, Pal.
Emak.