Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Surat buat Ipal (Writing Challenge Kampus Fiksi Hari Kesembilan)

Ahoi, Ipal.
Nanti kalo udah bisa baca, bolehlah buka-buka blog Emak buat liat tulisan--yang dibuat buru-buru--ini.
Emak nggak inget pernah nggak bikin surat selain surat izin sakit dan surat lamaran kerja. Tapi karena tantangannya begitu dan Emak udah telat dua hari ngumpul, ya bikinlah surat ini.
Udah, ya, gitu aja.
Kalo-kalo kamu beneran baca, bahkan setelah kena omel nanti, tetaplah berusaha merasa beruntung jadi anak Emak. Karena itu takdir~~~hohoho ||--(^o^)>

Bhay, Pal.
Emak.

Saya nggak gitu, kok... (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedelapan)

Tema Hari Kedelapan Writing Challenge Kampus Fiksi nyuruh curhat beneran apa, yak? “Sebutkan 5 fakta yang berlawanan dengan 5 opini orang lain tentang kamu.”
HitamSejak di bangku sekolah, kawan saya sering menerka-nerka, bagaimana mungkin kulit saya bisa sehitam ini (bahkan telapak tangan saya gelap), sementara kakak-kakak dan adik saya yang jumlahnya bisa bikin tim basket itu putih-putih. Macam-macam prediksi mereka ajukan. Ada yang mengira saya terlalu lama dijemur (dipepe) ketika masih bayi, kelupaan diangkat. Ada yang menduga saya adalah bayi yang tertukar (sinetron kali, ah). Ada pula yang menduga saya ketimpahan oli dan meresap hingga ke kulit. Kampret emang pada omongannya. Tapi ya kami bahas sambil ngakak-ngakak aja. Baru-baru ini, salah satu anak KF juga ada yang nyeletuk: “Mungkin Mbaknya bukan asli Lampung, ya.” Diiringi suara ngakak Wahyu (ini yang terngiang, paling kenceng), dan kawan-kawan yang lain. Karena oh karena, saya sudah pernah cerita sebelumnya bahwa tidak sedikit…

Meh Remeh (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Keenam)

Sampai saat ini, hatiku berhenti di sini, *ah elah, malah nyanyi* saya nggak berhasil menemukan bahan tema untuk Hari Keenam Writing Challenge #KampusFiksi. Kalau tidak ada bahan, artinya nggak ada masakan. Jadi hari ini saya suguhkan semacam minuman aja, ya. Biar saya bisa move on dan melanjutkan memikirkan tema hari ini karena #10DaysKF masih berlanjut, nggak peduli saya nulis atau nggak.
(ง ̄□ ̄)ง Alasan saya nggak menulis cerita untuk menjawab tantangan kali ini ada beberapa. Pertama, karena saya ngerasa nggak pernah nyombong (sesumbar sering), atau membanggakan sesuatu. Kalopun pernah, saya sudah lupa. Ngahahahahah.... Kedua, kalaupun ada yang meremehkan hal yang saya lakukan atau saya ceritakan, saya biasanya nggak sadar, atau mungkin nggak peduli. Ketiga, kalau yang meremehkan itu ngomong, ngece, biasanya saya anggap bercanda. Kawan saya sepertinya nggak ada yang macam di sinetron, yang suka menghina dengan wajah di-zoom. Kalaupun ada, ya becanda, macam saya ketika sesumbar. Kalau yang…

Pelarian (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Keempat)

Pertemuan pertama kami sungguh biasa. Namun hubungan kami berlangsung lama. Hingga kini, bahkan setelah memiliki suami dan anak satu, saya masih setia. Kadang, jika rindu, diam-diam saya mengunjunginya. Kadang, saya datang karena hanya merasa perlu pelarian. *
Kadang-kadang, saya merasa butuh rokok sebagai tempat lari dari dunia nyata. Melihat orang-orang mengisap benda itu, lalu mengembuskannya, lalu menghirup asapnya, sepertinya nikmat sekali. Coba perhatikan, orang-orang yang merokok dengan tidak terburu-buru akan memejam mata sejenak, memijit-mijit busa di ujung rokok, ditahan dengan jari—bukan diletakkan di asbak—selama mereka berbincang dengan kawan di sela sruputan kopi dengan tangan kanan. Jadi, ya, ketika masih kecil dan melihat orang-orang dewasa di sekitar merokok, saya penasaran dengan rasa nyaman yang sepertinya mereka rasakan juga. Pertemuan itu tidak pernah terjadi.  Saya justru terdampar kepada pelarian dalam bentuk lain. Bagi saya, dia jauh lebih candu dari pelarian oran…

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda." "Iya, Bunda, tapi kan...." Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan. Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai. "Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek. Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius? "Tapi, Mama—" Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah." Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus y…

Kertas Undian Mang Idan (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedua)

Mang Idan tidak pernah mengira jika undian kopi bubuk yang dengan setengah putus asa diikutinya akan membuahkan hasil. Pagi tadi, ada telepon mengabari kalau dia mendapat hadiah utama berupa rumah. Tak mau ditipu seperti Mak Nah, tetangganya yang dikabari dapat undian 27 juta, Mang Idan tidak menggubris telepon dan SMS yang masuk. Baru ketika sudah 4 kali nomor yang sama masih menghubungi di hari itu juga, Mang Idan dengan jengkel mengangkat telepon. "Saya nggak percaya!" teriaknya jengkel. Memberitahunya mendapat rumah ketika anaknya malu sekolah perkara uang buku yang belum tuntas dan istri yang tak berhenti merepet tentang utang di tetangga seperti memeras jeruk ke atas luka menganga. "Tapi, Pak, ini benar dari PT. Sejahtera Selamana, bukan penipuan. Kalau tidak percaya, katakan posisi Bapak. Soalnya, dicari sesuai KTP, Bapak tidak ada di sana." Nah, ini beda cerita dengan yang disampaikan Mak Nah. Tidak ada minta kirim-kirim duit, malah berani datang langsung. Dan …