Langsung ke konten utama

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

Sumber Gambar

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda."
"Iya, Bunda, tapi kan...."
Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan.
Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai.
"Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek.
Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius?
"Tapi, Mama—"
Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah."
Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus yang menurut kabar dibuat dari pepaya dan kecap botol yang bisa dibeli isi ulang seharga tiga ribu saja. Tetap saja, cilok buatan Mamang ini enak. Aku juga ingin bisa masak seenak ini dengan bahan sederhana seperti tepung saja.
"Ayah juga bingung, Bunda...."
"Kalau begini terus, nanti Bunda tulis dan sebar semua kebohongan Ayah. Bunda ceritain semuanya, biar orang-orang tau!"
"Sstt..., jangan keras-keras, Bun. Nggak enak didenger orang," sahut cowok sok bijak.
"Tau, ah!" Yang cewek lebih menjengkelkan.
Melihat tanggapan itu, si cowok memegang kepala dengan sebelah tangan, berlagak depresi.
Drama, pikirku. Tapi tetap menyimak.
Selang berapa lama, cowok itu berkata lirih, "Ayah pengennya juga kita tetep bisa jalan bareng. Tapi Mama bakal ngelahirin tahun ini. Pasti Ayah disuruh sering-sering jaga Adik. Bunda mau ngertiin Ayah, kan? Bunda mau jadi istri Ayah kan, nanti?"
Aku melirik sedikit, rupanya tangan cowok itu menggenggam tangan si cewek. 

Kepalaku mulai berdenyut. 
“Nanti, kalau sudah bisa cari uang sendiri, ada tabungan, nggak minta-minta sama Mama lagi, kita jalan-jalan berdua aja. Ayah janji,” bisik si cowok sambil merangkulkan tangan ke bahu cewek. 

Aku bergidik.
Suara sendu cewek itu terdengar, rupanya sudah luluh. "Iya, Bunda minta maaf. Bunda tu cuma nggak mau kehilangan waktu bareng Ayah. Bunda mau jadi istri yang baik, kok. Bunda bakal sering ngalah, deh, kalo Mama udah ngelahirin."
Menahan mual, aku beranjak dari kursi. Sudah cukup rasanya menonton sejoli korban sinetron di sebelahku ini.
Setelah membayar cilok ke Mamang, aku mendekat ke arah mereka berdua dan berkata dengan jelas, "Dek, udahan gih maen ayah-bundanya. PR-nya udah pada dikerjain belum?"
Mamang penjual cilok tertawa mendengar ucapanku kepada dua makhluk berseragam putih-merah itu. 
Sambil melangkah ke arah kos, aku berpikir, sebenarnya aku tadi ingin menambahkan, 'Deadline PR kalian besok, kan?' Tapi kayaknya anak SD belum tentu mengerti arti kata itu. Lagi pula, yang deadline-nya besok itu aku. (*)



Oke, selesai. Fyuh... (˘ε ˘″)ゞ (˘ε ˘″)ノ’
Betewe, kayaknya dibanding kemaren, makin pendek aja, ya…, itu tulisannya. ("`▽´)-σ 
Nggak apa, dah. Yang penting masih setia ikut #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge
Tema hari ketiga #10DaysKF 

Banyak hal yang ingin saya capai tahun ini, lima di antaranya: 
  1. Jalan-jalan tanpa beban. ┐(''┐) (┌'')┌ ┐(''┐) (┌'')┌
  2. Bisa masak enak dengan bahan dasar tepung, khusus tahun ini targetnya brownies kukus yang mantap—sejauh ini baru donat yang kadang sukses kadang gagal. 
  3. Nulis. << sejak dulu kala pengen2 ae tapi lalu malah edit dan posting foto di IG. Tahun ini, target nulis disamain dengan target baca di Goodreads. << ya namanya juga keinginan.... ('')\
  4. Nabung.  
  5. Tepat deadline. Dalam semua cakupan kehidupan >> sholat, makan, mandi, dan gawe tentu.  

Oke, sip, semuanya udah ada di sana. Kalo liat anak SD maen ayah-bundaan, bisa coba disuruh kerjaan PR. Mungkin jawabannya bakal ajaib….
Seperti kata Eko Triono, di kumcer Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon?: “Bukankah benar masa kecil adalah orang tua bagi manusia dewasa?”
Anak-anak memang sepatutnya memiliki imajinasi sebagai bekal menemani mereka ketika menghadapi dunia orang dewasa nanti, tapi ya nggak ke arah sana juga…||--(―˛―)>.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Saya nggak gitu, kok... (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedelapan)

Tema Hari Kedelapan Writing Challenge Kampus Fiksi nyuruh curhat beneran apa, yak? “Sebutkan 5 fakta yang berlawanan dengan 5 opini orang lain tentang kamu.”
HitamSejak di bangku sekolah, kawan saya sering menerka-nerka, bagaimana mungkin kulit saya bisa sehitam ini (bahkan telapak tangan saya gelap), sementara kakak-kakak dan adik saya yang jumlahnya bisa bikin tim basket itu putih-putih. Macam-macam prediksi mereka ajukan. Ada yang mengira saya terlalu lama dijemur (dipepe) ketika masih bayi, kelupaan diangkat. Ada yang menduga saya adalah bayi yang tertukar (sinetron kali, ah). Ada pula yang menduga saya ketimpahan oli dan meresap hingga ke kulit. Kampret emang pada omongannya. Tapi ya kami bahas sambil ngakak-ngakak aja. Baru-baru ini, salah satu anak KF juga ada yang nyeletuk: “Mungkin Mbaknya bukan asli Lampung, ya.” Diiringi suara ngakak Wahyu (ini yang terngiang, paling kenceng), dan kawan-kawan yang lain. Karena oh karena, saya sudah pernah cerita sebelumnya bahwa tidak sedikit…