Langsung ke konten utama

Kertas Undian Mang Idan (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedua)

Sumber Gambar

Mang Idan tidak pernah mengira jika undian kopi bubuk yang dengan setengah putus asa diikutinya akan membuahkan hasil.
Pagi tadi, ada telepon mengabari kalau dia mendapat hadiah utama berupa rumah. Tak mau ditipu seperti Mak Nah, tetangganya yang dikabari dapat undian 27 juta, Mang Idan tidak menggubris telepon dan SMS yang masuk.
Baru ketika sudah 4 kali nomor yang sama masih menghubungi di hari itu juga, Mang Idan dengan jengkel mengangkat telepon.
"Saya nggak percaya!" teriaknya jengkel.
Memberitahunya mendapat rumah ketika anaknya malu sekolah perkara uang buku yang belum tuntas dan istri yang tak berhenti merepet tentang utang di tetangga seperti memeras jeruk ke atas luka menganga.
"Tapi, Pak, ini benar dari PT. Sejahtera Selamana, bukan penipuan. Kalau tidak percaya, katakan posisi Bapak. Soalnya, dicari sesuai KTP, Bapak tidak ada di sana."
Nah, ini beda cerita dengan yang disampaikan Mak Nah. Tidak ada minta kirim-kirim duit, malah berani datang langsung. Dan Mang Idan memang memakai alamat di KTP-nya yang tercatat ketika ia masih tinggal di Bantul. Padahal dia sudah dua tahun di Yogyakarta.
Iseng, sambil merapal doa, Mang Idan menyebutkan alamatnya saat ini. Sebuah kontrakan papan di salah satu sempilan Kota Gede.
Tak mau menunggu dengan termangu, Mang Idan mulai berkeliling menjajakan es degan. "Bapak pergi dulu," pamitnya kepada anak dan istrinya yang sedang berusaha tampak sibuk di rumah, menghindari kenyataan pahit dunia masing-masing.
Meski tak mendapat jawaban, Mang Idan tetap berangkat dengan semangat.
Memang sekarang musim hujan, tapi Mang Idan tak punya bahan lain untuk dijual. Atau mungkin, sudah banyak yang tidak mau menitipkan dagangan kepadanya karena nyaris tidak pernah tidak diutang.
Hanya Juragan Sidik yang masih mempercayakan gerobak dan beberapa gelintir degan kepadanya. Bahkan sepertinya hanya dia yang masih peduli kepada keluarganya. Dan Mang Idan bersyukur untuk itu.
*

Sore rintik ketika Mang Idan menepikan gerobak sewaannya dengan susah di pinggir kontrakan. Ada mobil yang sedang parkir tak jauh di rumah depan kontrakannya, artinya ia harus lebih memepetkan gerobak itu ke tepi agar tidak menggores mobil yang artinya cari mati.
"Itu dia! Mang Idan! Hebat!"
"Selamat, Mang Idan!"
"Mang Idan, Alhamdulillah...."
Berkali-kali muncul ucap syukur, dari bibir-bibir tetangganya yang sudah cukup lama menghindarinya bahkan untuk sekadar menegur.
Masih belum mengerti apa yang terjadi, seorang pria berjas diiringi bau wangi mendekatinya.
"Akhirnya ketemu juga. Selamat, Pak Idan. Anda pemenang utama undian produk Kopi Item dari PT. Sejahtera Selamana."
Melihat Mang Idan membeku, pria berjas menepuk punggung Mang Idan sambil menggiringnya ke dalam kontrakan. Engsel yang sudah berkarat itu berderit seiring tangan Mang Idan membuka pintu rumah.
*

Rumah. Rumah sungguhan. Atas namanya. Memang hanya tipe 30—luas bangunan rumah 30 meter persegi, di atas tanah 60 meter persegi, tapi itu bagi Mang Idan seperti mimpi.
Oh, jangankan rumah, untuk mendapatkan tanah di Yogyakarta masa sekarang ini rasanya mustahil. Maka mendapatkannya secara percuma bagai keajaiban.
Mang Idan meraung, tak berhenti bersyukur. Air matanya mengalir tanpa henti, diikuti oleh sorotan kamera. "Untuk dokumentasi," begitu tadi kata mereka.
"Bapak bisa mendapatkan sertifikatnya dua bulan lagi, nunggu balik nama. Nanti ketemu notaris dulu, namanya Pak Agung. Ajak istrinya, ya. Alamat kantor Pak Agung tadi ada di kartu yang saya kasih. Atau janjian di rumah juga bisa. Nanti kita janjian waktunya kapan baru ketemuan."
Mang Idan jadi ingat, istri dan anaknya dari tadi tak terlihat. Ia bahkan tadi pakai kunci sendiri. Mang Idan juga jadi ingat, ia tidak meninggalkan bahan makanan kecuali sisa nasi semalam. Apa mereka sedang cari utangan lauk makan malam? pikirnya.
"Nanti, sebagai ganti, Mang Idan dan keluarga syuting untuk iklan. Tapi nggak dibayar lho, ya. Kalo makan selama syuting sih beres. Oke ya, Mang Idan? Saya pamit dulu kalo gitu."
Dan begitulah laki-laki berjas itu pamit. Setelah keriuhan tetangga mereda, Mang Idan justru mulai menerka-nerka, di mana gerangan anak dan istrinya.
*

Menjelang Isya, Mang Idan mulai tak jenak. Istri dan anaknya tak kunjung tampak. Mana mungkin mereka kembali ke Bantul, sudah tidak ada rumah di sana, dijual untuk menutup utang. Dengan perasaan gelisah, Mang Idan melapor ke Pak RT.
Menjelang tengah malam, Mang Idan yang baru akan terlelap terbangun mendengar ketukan, gedoran mungkin lebih tepat. Mendapati anaknya di depan pintu, Mang Idan melolong.
Seharusnya tali yang melilit lehernya disingkirkan dulu tadi. Pak RT memarahi Sapri yang menggendong jasad anak itu.
Harusnya jangan langsung dibawa begitu, tapi diberi tahu, biar nggak jadi sawan begini,” sahut yang lain.
Masih banyak ucapan lain yang teredam oleh teriakan Mang Idan yang tak lagi tertahan. Beberapa orang memeganginya, menyuruhnya istighfar, membawakan air putih....
*

Di Terminal Giwangan, seorang wanita tak mengetahui apa yang baru saja dilepaskannya ketika ia bertekad meninggalkan Mang Idan dan anak mereka, serta memilih ikut dengan Mas Sidik, memulai hidup baru di Semarang. (*)



Aloha, hula-hula....
Ini emang sengaja dikirim cepet biar besok nggak kayak Hari Pertama, kelupaan diposting. Sementara besok sudah banyak cucian baju menunggu.
Masih dalam rangka acara #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge

Tema hari kedua #10DaysKF adalah:
"Tiga hal yang kemungkinan besar akan membuatmu histeris."

Histeris itu senang atau sedih yang sangat, ditunjukkan dengan ekspresi dan kadang perubahan volume suara serta gerakan tubuh, kan, ya? *ini penjelasan versi sendiri 

Yah, sudah ada tiga hal yang ada di atas sana. Aura penyampaiannya memang masih suram ae, sih. Hari ketiga nanti diusahakan cerah ceria, coba.... 
Terima kasih sudah membaca....
Sekarang, emak-emak kudu bubuk. Bay~~~
*lambai-lambai sapu tangan putih


Komentar

  1. Unik juga postingannya, ternyata dikemas dalam bentuk cerpen 😆
    Tapi satu yg mau aku tanyain, itu tokoh utama yg namanya Idan itu org Sunda atau asli org Jogja?Soalnya sempet bingung juga, dipanggilnya Mang tapi ngga diceritain asal usulnya. Keep Writing sis!
    Visit blogku juga http://kairistory96.blogspot.co.id/2017/01/the-three-sacred-treasure-kampusfiksi.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahah.... wah, iya, kebawa kebiasaan manggil semua orang suka-suka, kadnag mang, kang, mas, bang...
      Makasih...
      okesip, mluncur...

      Hapus
  2. Masih konsisten suram kayak mbak Ajjah yang biasa, tetapi saya syukkaaakkkk. Trus penyampaian secara ga langsung bikin nebak nebak tp kalo ketahuan langsung tepokin jidat, yeayyyy tepuk tangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahahah... yeay, makasih, Mas. Coba besok nulis yang manisan dikit, deh... :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

Saksi Mata (Cerpen Muhajjah Saratini)

“Yang ini cantik, Mas.”
“Nggak, ah. Kurang besar.”
Lagi-lagi, aku ditolak.
Sejak diizinkan Tuhan hadir di bumi, aku sadar bahwa diriku dipersiapkan untuk seseorang yang spesial, bukan orang sembarangan. Meskipun sudah beberapa laki-laki yang menahanku lama, pada akhirnya mereka semua mengembalikanku baik-baik. Belum ada yang bersedia mengeluarkanku dari sini.
Seperti yang baru saja terjadi. Laki-laki itu menolak karena, lagi-lagi, aku dirasa kurang besar.
Memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku sudah diciptakan seperti ini. Menurutku, seluruh bagian tubuhku ini saling melengkapi, sudah sempurna. Memang, ada beberapa kawanku yang akhirnya diberi perbaikan. Mereka menghilang beberapa saat, lalu kembali dengan wujud baru. Biasanya lebih besar, kalau tidak tampak lebih memukau. Hm, apa ya, istilahnya, berkilau. Ya, mereka tampak semakin berkilau.
Tapi pasti sakit sekali prosesnya. Aku bergidik membayangkan tubuhku dirombak. Memang sebaiknya kita menerima di…

Saya nggak gitu, kok... (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedelapan)

Tema Hari Kedelapan Writing Challenge Kampus Fiksi nyuruh curhat beneran apa, yak? “Sebutkan 5 fakta yang berlawanan dengan 5 opini orang lain tentang kamu.”
HitamSejak di bangku sekolah, kawan saya sering menerka-nerka, bagaimana mungkin kulit saya bisa sehitam ini (bahkan telapak tangan saya gelap), sementara kakak-kakak dan adik saya yang jumlahnya bisa bikin tim basket itu putih-putih. Macam-macam prediksi mereka ajukan. Ada yang mengira saya terlalu lama dijemur (dipepe) ketika masih bayi, kelupaan diangkat. Ada yang menduga saya adalah bayi yang tertukar (sinetron kali, ah). Ada pula yang menduga saya ketimpahan oli dan meresap hingga ke kulit. Kampret emang pada omongannya. Tapi ya kami bahas sambil ngakak-ngakak aja. Baru-baru ini, salah satu anak KF juga ada yang nyeletuk: “Mungkin Mbaknya bukan asli Lampung, ya.” Diiringi suara ngakak Wahyu (ini yang terngiang, paling kenceng), dan kawan-kawan yang lain. Karena oh karena, saya sudah pernah cerita sebelumnya bahwa tidak sedikit…

Surat buat Ipal (Writing Challenge Kampus Fiksi Hari Kesembilan)

Ahoi, Ipal.
Nanti kalo udah bisa baca, bolehlah buka-buka blog Emak buat liat tulisan--yang dibuat buru-buru--ini.
Emak nggak inget pernah nggak bikin surat selain surat izin sakit dan surat lamaran kerja. Tapi karena tantangannya begitu dan Emak udah telat dua hari ngumpul, ya bikinlah surat ini.
Udah, ya, gitu aja.
Kalo-kalo kamu beneran baca, bahkan setelah kena omel nanti, tetaplah berusaha merasa beruntung jadi anak Emak. Karena itu takdir~~~hohoho ||--(^o^)>

Bhay, Pal.
Emak.