Langsung ke konten utama

Meh Remeh (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Keenam)

Sumber Gambar

Sampai saat ini, hatiku berhenti di sini, *ah elah, malah nyanyi* saya nggak berhasil menemukan bahan tema untuk Hari Keenam Writing Challenge #KampusFiksi.
Kalau tidak ada bahan, artinya nggak ada masakan.
Jadi hari ini saya suguhkan semacam minuman aja, ya. Biar saya bisa move on dan melanjutkan memikirkan tema hari ini karena #10DaysKF masih berlanjut, nggak peduli saya nulis atau nggak.
()
Alasan saya nggak menulis cerita untuk menjawab tantangan kali ini ada beberapa.
Pertama, karena saya ngerasa nggak pernah nyombong (sesumbar sering), atau membanggakan sesuatu. Kalopun pernah, saya sudah lupa. Ngahahahahah....
Kedua, kalaupun ada yang meremehkan hal yang saya lakukan atau saya ceritakan, saya biasanya nggak sadar, atau mungkin nggak peduli.
Ketiga, kalau yang meremehkan itu ngomong, ngece, biasanya saya anggap bercanda. Kawan saya sepertinya nggak ada yang macam di sinetron, yang suka menghina dengan wajah di-zoom. Kalaupun ada, ya becanda, macam saya ketika sesumbar.
Kalau yang meremehkan diam, bagaimana saya bisa tau kalau dia meremehkan? Kan kita nggak bole su'uzon. *ahem*
Kalaupun memang pernah ada yang benar-benar meremehkan, reaksi saya mungkin: "Terus kenapa?" 
( ̄ー ̄)

Saya lalu kepikiran, bagaimana kalau pertanyaan ini dibalik? Apakah saya pernah meremehkan hal yang dibanggakan seseorang?
Nah. Itu ... sepertinya bakal panjang. (_;)

Saya nggak ambil pusing orang mau meremehkan hal-hal yang saya ceritakan. Bisa jadi itu memang remeh bagi mereka, dan itu nggak masalah buat saya. Itu mungkin alasan kenapa saya nggak bisa mengorek lebih dalam kenangan kapan saya membangga-banggakan sesuatu tapi justru diremehkan. (Kalimat di paragraf ini kalo di pelajaran bahasa Inggris biasanya jadi pertanyaan: "itu" refers to?)
Ini adalah path saya, jalur jalan hidup saya. Orang-orang yang melihat dari tepi hanya bisa berkomentar, bukan menjalani. Jadi terserah, dah.
Tapi, ketika tulisan ini nyaris selesai, saya teringat pada satu hal yang selalu saya ceritakan dengan sesumbar. Kelebihan saya dibanding kawan-kawan lainnya:
Kelebihan pigmen.
(ω;) 

Salam.
Bay...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Tiga Jenis Pompa ASI yang Saya Pakai

Pengalaman Memakai Pompa ASI
Sejak melahirkan, saya memang memutuskan akan memberikan ASI sebisanya. Karena tidak mahir memeras dengan tangan kosong, saya mulai mencari pompa ASI. Awalnya, bukan untuk Kira ketika ditinggal kerja saya mencari pompa, tetapi untuk Kira yang sedang disinar biru di rumah sakit bilirubinnya tinggi.
Ada tiga pompa yang sudah saya coba, dan ini ulasannya.
Ketika mencari di rumah sakit, suami saya menemukan pompa ASI model pertama.



Pompa ini bentuknya agak membingungkan. Saya tidak paham apa maksud pipa panjang yang menghubungkan pompa dan corong yang melekat pada payudara. Yang pasti, rasanya sangat tidak nyaman dan tidak efisien. 

Saya rasa, karena udara yang seharusnya langsung terpakai sebagai energi pemompa harus melewati liukan pipa itu. Jadi, kekuatannya sudah jauh berkurang sehingga kekuatan menyedot ASI pun minim.
Ini adalah pompa pertama yang saya gunakan, dan pertama kali menggunakannya di rumah sakit. Sungguh, sulit sekali mengeluarkan ASI dengan pompa…

Bayi Harus Dibedong Agar Kakinya Lurus. Bayi Harus Pake Gurita Biar Perutnya Nggak Buncit. Benarkah?

Untuk menjawab pertanyaan apakah bayi harus dibedong, kita harus mengetahui jawaban pertanyaan berikut terlebih dahulu.

Apa sebenarnya tujuan bayi dibedong?

Jawabannya sederhana, agar bayi merasa hangat.

Pagi pertama setelah melahirkan, perawat membawa Kira ke hadapan kami dalam kondisi dibedong rapi. Karena tidak tahu mesti diapakan, dan Kira juga lagi tidur, saya puas-puasin memandangnya saja.
Beberapa waktu kemudian, dokter datang dan bertanya, "Sudah disusui?"
"Belum. Dari tadi masih tidur, Dok."
"Lah, dibangunin aja. Ini bedongnya dibuka biar dia bangun. Kalo dibedong begini ya dia anteng, soalnya ngerasa anget terus."
*dalem hati* "Oh, gitu."
"Dibedong biar anget, nggak perlu terus-terusan dibedong. Dan jangan pakein gurita, ya."
"Iya, Dok."

Setelah tanya ke sana dan ke sini, ternyata pemakaian bedong nggak berpengaruh kepada kaki.
Tapi..., sebagai ibu baru, tetep khawatir ketika masih banyak juga yang bilang kakinya …