Langsung ke konten utama

Pelarian (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Keempat)

Sumber Gambar

Pertemuan pertama kami sungguh biasa. Namun hubungan kami berlangsung lama. Hingga kini, bahkan setelah memiliki suami dan anak satu, saya masih setia. Kadang, jika rindu, diam-diam saya mengunjunginya. Kadang, saya datang karena hanya merasa perlu pelarian.
*

Kadang-kadang, saya merasa butuh rokok sebagai tempat lari dari dunia nyata. Melihat orang-orang mengisap benda itu, lalu mengembuskannya, lalu menghirup asapnya, sepertinya nikmat sekali. Coba perhatikan, orang-orang yang merokok dengan tidak terburu-buru akan memejam mata sejenak, memijit-mijit busa di ujung rokok, ditahan dengan jari—bukan diletakkan di asbak—selama mereka berbincang dengan kawan di sela sruputan kopi dengan tangan kanan.
Jadi, ya, ketika masih kecil dan melihat orang-orang dewasa di sekitar merokok, saya penasaran dengan rasa nyaman yang sepertinya mereka rasakan juga.
Pertemuan itu tidak pernah terjadi. 
Saya justru terdampar kepada pelarian dalam bentuk lain. Bagi saya, dia jauh lebih candu dari pelarian orang-orang dewasa itu.
Ketika dengannya, saya merasa tidak lagi berada di sebuah rumah dengan lima kamar, dipenuhi kakak dan adik yang kalau tidak sibuk bertengkar ya ramai berdendang—kalau saya pikir sekarang, itu cara mereka melakukan pelarian juga, musik itu. Atau bukan sedang berkutat dengan waktu istirahat yang sempit di perpustakaan yang memang tidak pernah ramai.
Saya akui sekarang, melalui tulisan ini, ketika pertemuan pertama itu terjadi, saya yang lebih dulu menyambangi dan mengulurkan tangan kepadanya. Berharap bisa mengenalnya lebih jauh. Sebaliknya, yang dia lakukan pertama kali kepada saya adalah penipuan. 
Tapi saya tetap menemuinya, mau bagaimana, telanjur suka.
Saat pertemuan pertama itu terjadi, setelah menanggapi tepukan saya di punggungnya, dengan wajah datar ia menyodorkan sepuluh nama orang kepada saya. Katanya, masing-masing dari mereka berbuat dosa. Maka ia lempar ke sebuah pulau. Di pulau itu, mereka akan menemui hukuman.
Bermain teka-teki, ia berkata: "Salah satu dari mereka pembunuh. Bisakah kau menebak yang mana?"
Dan saya gagal.
Biasanya, kegagalan membawa kita pada perasaan putus asa. Sebaliknya, saya justru bahagia.
Aneh, bukan?
Saya rasa, perasaan bahagia karena "ditipu" yang timbul adalah karena ia adil. Tidak ada petunjuk yang disembunyikan. Semua itu terpapar, hanya saja kita--saya dan banyak pembaca lainnya-- melihatnya dengan sudut pandang berbeda.
Sejak saat itu, saya rajin menemuinya. Hingga kini, saya masih setia. Dan mulai mengumpulkan versi lain tentang dirinya. Total lebih dari delapan puluh buku, dan saya baru punya sekitar... enam puluh. Dan berharap akan segera lengkap.
*

Baiklah, ini setoran #10DaysKF saya untuk Hari Keempat. 
Sesungguhnya, sejak melihat temanya dari dua hari lalu: “Ceritakan pertemuan pertama kamu dengan dia tanpa menyebut nama”, saya sudah ucing. Pertemuan dengan siapa yang akan saya ceritakan? Kalau kisah asmara saya eee... saya aja pasti malas bacanya. Ngoahahhahha....
Jadi, itu, dah. Pertemuan pertama saya dengan tempat pelarian sejak SMA hingga saat ini. Ada banyak pelajaran yang saya terima dari buku karangan dia. Sebenarnya, saya lupa buku apa karangan dia yang pertama kali saya baca. Tadinya mau bahas yang Catatan Buku Josephine, tapi saya inget banget buku itu saya baca pertama kali ketika kuliah. Jadi, buku lain yang penuh pesona ya itu: Sepuluh Anak Negro atau sekarang judulnya: Lalu Semuanya Lenyap.
Saya memang tidak menyebut namanya. Tapi ini sih seperti menunjukkan fotonya. ("`▽´) 
Masih ikut 10 Days Writing Challenge #KampusFiksi. Kalau tidak ada konsep memang begini dah jadinya, telat. Langsung nguber buat hari kelima nanti malam.

Okesip. Emak-emak bersiap menghadapi gempuran si bujang Kira dulu. Bay... (^0^)/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Tiga Jenis Pompa ASI yang Saya Pakai

Pengalaman Memakai Pompa ASI
Sejak melahirkan, saya memang memutuskan akan memberikan ASI sebisanya. Karena tidak mahir memeras dengan tangan kosong, saya mulai mencari pompa ASI. Awalnya, bukan untuk Kira ketika ditinggal kerja saya mencari pompa, tetapi untuk Kira yang sedang disinar biru di rumah sakit bilirubinnya tinggi.
Ada tiga pompa yang sudah saya coba, dan ini ulasannya.
Ketika mencari di rumah sakit, suami saya menemukan pompa ASI model pertama.



Pompa ini bentuknya agak membingungkan. Saya tidak paham apa maksud pipa panjang yang menghubungkan pompa dan corong yang melekat pada payudara. Yang pasti, rasanya sangat tidak nyaman dan tidak efisien. 

Saya rasa, karena udara yang seharusnya langsung terpakai sebagai energi pemompa harus melewati liukan pipa itu. Jadi, kekuatannya sudah jauh berkurang sehingga kekuatan menyedot ASI pun minim.
Ini adalah pompa pertama yang saya gunakan, dan pertama kali menggunakannya di rumah sakit. Sungguh, sulit sekali mengeluarkan ASI dengan pompa…

Bayi Harus Dibedong Agar Kakinya Lurus. Bayi Harus Pake Gurita Biar Perutnya Nggak Buncit. Benarkah?

Untuk menjawab pertanyaan apakah bayi harus dibedong, kita harus mengetahui jawaban pertanyaan berikut terlebih dahulu.

Apa sebenarnya tujuan bayi dibedong?

Jawabannya sederhana, agar bayi merasa hangat.

Pagi pertama setelah melahirkan, perawat membawa Kira ke hadapan kami dalam kondisi dibedong rapi. Karena tidak tahu mesti diapakan, dan Kira juga lagi tidur, saya puas-puasin memandangnya saja.
Beberapa waktu kemudian, dokter datang dan bertanya, "Sudah disusui?"
"Belum. Dari tadi masih tidur, Dok."
"Lah, dibangunin aja. Ini bedongnya dibuka biar dia bangun. Kalo dibedong begini ya dia anteng, soalnya ngerasa anget terus."
*dalem hati* "Oh, gitu."
"Dibedong biar anget, nggak perlu terus-terusan dibedong. Dan jangan pakein gurita, ya."
"Iya, Dok."

Setelah tanya ke sana dan ke sini, ternyata pemakaian bedong nggak berpengaruh kepada kaki.
Tapi..., sebagai ibu baru, tetep khawatir ketika masih banyak juga yang bilang kakinya …