Langsung ke konten utama

Saya nggak gitu, kok... (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Kedelapan)

Sumber Gambar

Tema Hari Kedelapan Writing Challenge Kampus Fiksi nyuruh curhat beneran apa, yak?
“Sebutkan 5 fakta yang berlawanan dengan 5 opini orang lain tentang kamu.”

Hitam

Sejak di bangku sekolah, kawan saya sering menerka-nerka, bagaimana mungkin kulit saya bisa sehitam ini (bahkan telapak tangan saya gelap), sementara kakak-kakak dan adik saya yang jumlahnya bisa bikin tim basket itu putih-putih. Macam-macam prediksi mereka ajukan. Ada yang mengira saya terlalu lama dijemur (dipepe) ketika masih bayi, kelupaan diangkat. Ada yang menduga saya adalah bayi yang tertukar (sinetron kali, ah). Ada pula yang menduga saya ketimpahan oli dan meresap hingga ke kulit. Kampret emang pada omongannya. Tapi ya kami bahas sambil ngakak-ngakak aja.
Baru-baru ini, salah satu anak KF juga ada yang nyeletuk: “Mungkin Mbaknya bukan asli Lampung, ya.” Diiringi suara ngakak Wahyu (ini yang terngiang, paling kenceng), dan kawan-kawan yang lain. Karena oh karena, saya sudah pernah cerita sebelumnya bahwa tidak sedikit yang mengira saya berasal dari keluarga transmigran. Masih inget dong ya program pemerintah itu. Padahal, kenyataannya, ayah saya asli Palembang—dan dia putih. Sementara emak saya asli Lampung. Memang, Emak dari daerah Lampung pesisir, kata orang-orang memang ada yang berkulit gelap, walau sedikit. Emak saya di antaranya. Dan kalau lihat adik-adik dan kakak-kakak keluarga Emak yang bisa bikin kesebelasan sepak bola putih-putih semua, tampaknya memang gen ini menurun hanya pada salah satu anak saja. Saya justru mirip sekali dengan Emak—kecuali emak saya tinggi besar, sementara saya imut-imut *benerin poni*.
Nah, karena warna kulit saya ini justru sering menarik perhatian, saya juga mulai memperhatikan. *tadinya sih bodo amat* Lalu, saya menemukan kenyataan bahwa orang-orang itu selama ini keliru. Mereka menyebut kulit saya hitam, sesungguhnyalah kulit saya eksotis.
Catet, ye… eksotisss....
               

Selalu Kurus

Kalau yang baru kenal saya setahun empat tahun akan mengira tubuh saya always kurus never gemuk. Bahkan ketika hamil memang hanya perut saya yang tampak membesar. -_-“
Faktanya, kalau kenal saya di tahun-tahun awal kuliah, maka akan ditemukan sesosok yang saking gemuknya sampe nggak ada leher, napasnya pendek karena sesak, dan beberapa gelenjar lemak mendesak keluar dari sela-sela tali BH.
Sampai-sampai kawan saya yang tak lama berjumpa berkata, “Ish, lu ini gemuk banget sih, Jah. Kurusin dikit itu, lho.”
Saya: “Hah?” *nambah nasi*
Kalau kuliah di Jogja, area kos di Karang Malang, akan kalian temukan kenyataan perbedaan porsi nasi bungkus cewek dan cowok. Dulu… tidak terima dengan perbedaan itu, saya selalu minta porsi cowok. Karena kadang nggak ada beda harga, kadang bedanya cuma serebu tapi perbedaan porsi tampak signifikan. Ngahahahahah….
Sekarang, mungkin porsi makan saya dengan Kira lebih banyak Kira. Nggak ada niat diet, kekurusan itu terjadi begitu saja. Kata salah satu kawan yang perhatian, “Dulu kamu tu kurus karena lupa makan gegara keasikan nge-game.”
Saya: “Mosok, sih?” *nyruput es kopi, lanjut megang stik, kudu panen di Harvest Moon*

Nggak Pernah Sedih

Bukan sekali dua ada orang yang bilang, “Kok Mbak Ajah nggak pernah sedih, sih?” atau sejenisnya. Saya, cuek aja, ngakak-ngakak seperti biasa. Tapi, yang membuat saya melongo adalah ucapan lanjutan salah seorang kawan suatu ketika, “Nanti orang mengira Tuhan nggak adil, lho, Mbak, karena melihat Mbak seneng terus.”
Saya: “….”
.
.
.
O… oke, itu agak mengkhawatirkan. Pikiran pertama yang muncul: Memang ada ya orang yang bakal mikir begitu?
Kalimat itu terngiang selama beberapa hari sambil saya telaah kelakuan diri sendiri selama ini. Agaknya saya memang kebanyakan ngakak belakangan. Lah tapi kan bukan cuma belakangan. Sepanjang hidup saya sepertinya memang kebanyakan spontan nyengir.
Lalu, apakah saya harus memasang wajah sedih agar orang-orang merasa lebih baik?
Errr… anu, saya rasa itu bukan tanggung jawab saya.
Ada orang-orang yang semakin ia mudah tertawa pada hal remeh, semakin dalam luka yang ia simpan.
Walau saya nggak masuk golongan begitu, tapi ya saya memang merasa lebih senang saat masih bisa tertawa ketimbang tampak nestapa.
Faktanya, saya pernah kok, sedih. Tapi ya jarang diliatin aja. Soalnya kayaknya keseringan galaknya *eh

Suka Nyanyi Padahal Suara Jelek

Nah, ini jelas keliru. Bisa ditanya ke anak-anak yang pernah satu kos dengan saya. Berapa kali mereka nyuruh saya diem ketika lagi menyanyi dengan penjiwaan yang mendalam sampai-sampai mata saya terpejam.
Sering.
Sering banget. Sampe sekarang, masih sering diprotes karena nyanyi.
Padahal faktanya aduhai betapa merdu suara saya. Kalopun terasa asing di telinga, itu karena saya rajin melakukan improvisasi—baik lirik maupun nada, ya cuma kadang kepleset jadi fales, gitu aja. Bukan jelek, bukan. Jadi jelas pendapat itu keliru.
Ah, jadi inget, ada yang tau lagu ini nggak?
//wahai kau burung dalam sangkar/ sungguh nasibmu malang benar/ tak seorang pun ingin tahu/ duka dan lara di hatimu//
Mosok pas saya nyanyi-nyanyi di sekitar nggak ada yang tau….
-_-“

Pinter

Eh? Masak nggak ada yang mengira saya pinter, sih? *benerin kacamata*
Seenggaknya, mantan cowok saya mengira demikian. Tapi di pertengahan jalan, dia yang suka menghafal nama negara-negara di dunia lengkap dengan ibu kota dan benderanya mulai pusing mengajak saya ngobrol.
Ya, kalo dia mau bahas masalah Matriks misal, atau tabel periodik unsur, ketika SMA saya pasti bisa, kalo sekarang ya sudah lupa juga, sih.
Kalo sekarang ya misal diajak bahas praanggapan, tindak tutur, atau baru-baru ini, diakritik, masih sanggup.
Cuma kalo menghafalkan nama-nama eee….
Saking gregetnya, Mas Mantan dulu ngasih saya RPUL. “Nih, baca.”
-____-“
Faktanya masing-masing kita, bukan cuma saya, pinter di bidang tertentu, bukan di semua bidang.


Sebenarnya masih banyak opini yang keliru tentang saya, tapi nanti saya kelihatan baik banget lagi di mata kalian. Jangan sampe berpikir demikian, soalnya itu pasti hoax.
Oke, cukup tulisan untuk #10DaysKF ini. 

Betewe, bisa dikurangin nggak tema macam buka aib sendiri begini?
<(¬ o ¬)>

Komentar

  1. Mas Mantan!Ciee... yg punya 3 mantan. Hahahah

    BalasHapus
  2. foto yang lagi ga kurus mana jah? cini coba liat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada di eFBi... Pas di-share kawanku dulu, anak2 sempet liat, untung dah tenggelam. Ngahahahah..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...

Drama (Writing Challenge Kampus Fiksi--Hari Ketiga)

"Tapi kan Ayah sudah janji sama Bunda." "Iya, Bunda, tapi kan...." Aku menghela napas. Sejak tadi, di lapak cilok ini ada sejoli yang sedang berbincang. Kalian tahulah seberapa jangkauan penjual cilok. Mamang penjual itu hanya menyediakan satu bangku panjang yang bisa menampung tiga orang, dan dua kursi satuan. Nah, aku ada satu jalur dengan dua orang ini di bangku panjang. Mau tidak mau, aku mendengar semua percakapan mereka. Sejak dari keduanya suap-suapan, aku sudah nyaris menghardik. Tapi rupanya penasaran lebih menguasai. "Ayah bilang kita mau jalan-jalan tahun ini," rengek si cewek. Wajah cemberutnya tampak dibuat-buat, namun si cowok tampak sangat terluka. Benarkah si cowok menganggap cewek ini serius? "Tapi, Mama—" Si cewek memotong, "Pasti Mama yang dijadiin alasan Ayah. Bunda bosen, Yah." Mata kanan atasku mulai berkedut. Sambil menenangkan diri dan terus menyimak, aku mengaduk-aduk cilok di tangan, mencampurnya dengan saus y…

Bayi Harus Dibedong Agar Kakinya Lurus. Bayi Harus Pake Gurita Biar Perutnya Nggak Buncit. Benarkah?

Untuk menjawab pertanyaan apakah bayi harus dibedong, kita harus mengetahui jawaban pertanyaan berikut terlebih dahulu.

Apa sebenarnya tujuan bayi dibedong?

Jawabannya sederhana, agar bayi merasa hangat.

Pagi pertama setelah melahirkan, perawat membawa Kira ke hadapan kami dalam kondisi dibedong rapi. Karena tidak tahu mesti diapakan, dan Kira juga lagi tidur, saya puas-puasin memandangnya saja.
Beberapa waktu kemudian, dokter datang dan bertanya, "Sudah disusui?"
"Belum. Dari tadi masih tidur, Dok."
"Lah, dibangunin aja. Ini bedongnya dibuka biar dia bangun. Kalo dibedong begini ya dia anteng, soalnya ngerasa anget terus."
*dalem hati* "Oh, gitu."
"Dibedong biar anget, nggak perlu terus-terusan dibedong. Dan jangan pakein gurita, ya."
"Iya, Dok."

Setelah tanya ke sana dan ke sini, ternyata pemakaian bedong nggak berpengaruh kepada kaki.
Tapi..., sebagai ibu baru, tetep khawatir ketika masih banyak juga yang bilang kakinya …