Langsung ke konten utama

Sejak Saya Memutuskan di Rumah Saja...



Sejak menjadi ibu yang di rumah saja sebulan lalu, saya sudah tahu akan mengalami hal-hal berikut ini. Hanya saja, “mengalami” dan “membayangkan akan mengalami” memberi dampak yang jauh berbeda.

Sejak hamil, yang saya bayangkan adalah chaos. Entah sejak kapan saya mulai memperhatikan, tapi setiap melihat ibu yang memiliki anak kecil, yang saya lihat pada diri si ibu adalah: jejak kelelahan tiada tara. Mata yang sayu atau memiliki kecekungan yang lebih dalam menunjukkan kebutuhan tidur yang kurang terpenuhi. Tubuh yang berubah disertai cerita bahwa mereka merindukan bentuk tubuh yang dulu. Waktu berbincang yang jauh berkurang karena si anak akan segera memotong pembicaraan. Permintaan maaf atau teguran yang berulang, seakan ingin menunjukkan bahwa rumah atau kondisinya yang berantakan bukan keinginan melainkan keharusan. Bahkan, dalam senyum mereka—para ibu itu—tidak lagi menularkan kebahagiaan.

Ya, tulisan ini bukan berasal dari ibu ideal atau istri idaman. Saya hanya wanita yang—sama seperti banyak wanita lainnya—takut hamil dan melahirkan berkat cerita mengenai betapa sakit prosesnya.

Setelah Kira lahir, perasaan saya tidak berubah. Kalaupun berubah, menjadi lebih yakin karena apa-apa yang saya pikir akan saya alami benar-benar saya alami—dan ternyata memang kadang rasanya tak tertahankan. Kali lain ketika ada kesempatan, saya akan berbagi detail mengenai perubahan ini.

Setelah Kira berusia satu tahun, dan berhenti menyusu ASI, saya malah mulai bisa memperhatikannya dengan lebih tenang. Dan semua aksi-reaksi di antara kami semenjak itu membangun perasaan sayang yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Seringnya, saya merasa justru saya—jiwa saya—yang sedang dirawat oleh Kira.

"Ah, yang bener, Bun...?"



***

Menginjak usia tiga tahun, Kira semakin aktif. Dan reaktif.

Saya sering menemukan kerinduan Kira kepada saya melalui pelukan dan celoteh dia. Kemudian, saya sering menemukan kerinduan dalam diri saya.

Semula, saya ingin terus bekerja di kantor hingga Kira sekolah. Utamanya, karena saya sadar, saya tidak sanggup menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga.

Kawan saya bercerita senang melihat jika di rumah orang ada jemuran memutar karena artinya di sana ada anak kecil yang sedang tumbuh dan berkembang. Saya malah kasihan melihat rumah yang ada jemuran itu. Dulu. Jika kawan saya selalu semringah melihat anak kecil di sekitar, saya justru merasa khawatir. Karena, begitu banyak orang tua yang tampak mengalah pasrah pada anak-anak mereka. Bukan hanya dalam memenuhi keinginan, tapi juga ketika dipukuli sebagai bentuk protes. Jadi, jika ada anak kecil, saya selalu berpikir bahwa mereka adalah juragan tanpa tanding. Haha. Seperti yang ditampilkan anak yang sedang populer di Instagram: Mila Stauffer. “Well, I will stick to being two. I can still be the boss.”
 


Ya. Begitu pula dulu saya memandang anak-anak: They’re the boss.






***

Tiap minggu. Begitu mulanya rencana saya berbagi apa-apa yang saya alami sejak di rumah.

Nyatanya, jangankan menulis curhat cantik begini, untuk bisa ke kamar mandi dengan tenang saja sulit. Hu um. Meme yang bertebaran tentang ibu dengan anak-anak itu benar adanya. Itulah kenapa saya malah sering menghilang dari media sosial—padahal lagi promo. *ea, alasan

Minggu pertama, badan saya tiap bangun seperti habis darmawisata sebelumnya. Ngilu-ngilu. Tugas saya di rumah tampaknya sederhana: menemani Kira bermain. Tapi, sambil melakukan itu—dan pekerjaan rumah, tentu—saya juga perlu memperhatikan bagaimana Kira bersikap dan menanggapi sesuatu. Kemudian, bagaimana memberi dia pengertian mana yang baik dan tidak. Dan—ini yang paling menguras energi—mengulang-ulang memberi pengertian itu agar ia mengerti bahwa itu demi kebaikannya dan mau mengikuti.

Bukan, mereka bukan bos. Anak-anak—para peniru ulung ini—hanya mengikuti alur yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitar mereka. Kadang bahkan mereka berimprovisasi. Kira, misalnya, ketika menangis meraung atau meanangis sambil menutup wajah, merasa bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Sejak lama, setelah membaca-baca beberapa metode pendidikan anak, saya memutuskan memang sikap tegas diperlukan. Jadi, saya diamkan saja. Beberapa waktu kemudian, dia berimprovisasi menangis dengan diam di tempat, memastikan saya melihat wajah dan ekspresinya ketika menangis—dan memang dia tampak sangat sedih—disertai bulir air mata yang mengalir. Orang di sekitar saya menganggap saya ibu yang galak ketika mendiamkan Kira seperti itu di depan umum. Sebagian lagi berinisiatif mengangkat dan menuruti keinginannya dengan alasan: tidak tega, nangisnya beneran, sampai keluar air mata.



 
Tentu saja Kira nangis beneran. Cuma, menurut saya, itu bukan alasan untuk menuruti keinginannya.

Hal lain yang saya kurang sepakat adalah larangan penggunaan kata “jangan” kepada anak. Cukup lama saya berusaha mencerna metode ini, hanya untuk menemukan bahwa metode ini mustahil diterapkan dalam kehidupan nyata.
...
Oke, nyaris mustahil.
Yah..., yaaa..., mungkin bisa saja, kalau yang diurus oleh ibu hanya anak semata.

***

Pertanyaan teman-teman setelah beberapa lama tak berjumpa dengan saya, atau tetangga yang sekarang jadi lumayan sering melihat saya adalah: “Bagaimana di rumah?”

Yang saya jawab: “Capek. Haha.” Kemudian saya sambung dengan: “Tapi, senang sekali.”

Sekarang, saya jadi bagian dari perempuan yang matanya tampak sayu, senyum yang tampak dipaksakan, merindukan bentuk badan yang dulu—kalau ini bukan dampak Kira, haha. Tapi, perasaan melihat Kira tumbuh dan berkembang dengan peran saya memang tidak terganti.



Oh, tentu saja ibu yang bekerja masih bisa maksimal memantau dan menemani perkembangan anak mereka. Banyak kawan saya yang sanggup melakukannya. Masalahnya, saya sadar saya tidak cukup apik membagi waktu. Dengan semua hal yang perlu dipelajari untuk menjadi ibu, saya merasa perlu memilih.

Bukan hal mudah. Butuh waktu cukup lama dan drama sebelum akhirnya saya mengambil keputusan ini. Banyak pula yang menyayangkan keputusan saya. Sebagian terang-terangan berkata toh anak saya pun baik-baik saja di tempat yang menjaganya sebelumnya—dan malah diragukan dengan saya. Haha. Saya memang cukup terkenal sebagai ibu yang tidak bisa mengurus anak. Yang tentu saja hanya saya tanggapi dengan senyum atau tawa. Karena memang benar adanya. Semua ibu mengalaminya, sebenarnya, penyesuaian. Hanya saja dengan tingkatan berbeda. 

Ada pula yang bilang sayang, padahal cari kerja sekarang susah. Atau berusaha melegakan dengan berkata justru dengan bekerja, saya memikirkan masa depan Kira.
Memang.

Namun, usia Kira juga tidak mungkin mundur. Dia juga hanya satu kali, misal, menjalani usianya yang ketiga tahun. Dan dari bacaan dan pengalaman yang saya simpan di kepala, saya harusnya menyadari dari dulu bahwa fondasi kehidupan Kira justru saat ini. Saya hanya tidak ingin menyesal karena tidak mengenali karakter anak sendiri, atau bingung bagaimana harus berkomunikasi dengannya kelak.

Tolong jangan mulai perang ibu bekerja vs ibu di rumah setelah ini. Masing-masing perempuan—khususnya—mengalami perjuangannya sendiri. Jika dengan menunjukkan “aku lebih baik, kamu sih nggak kayak aku”, kamu merasa lebih baik. Maka, sungguh kasihan. 

***



Perjalanan saya sebagai ibu di rumah baru dimulai. Dan saya memilih menikmati setiap tapak yang akan saya jejak.

Komentar

  1. Selamat menikmati masa masa orientasi menjadi seorang ibu rumah tangga, Mba Ajjah. Aku pun sedang dalam proses itu, baru beberapa hari, resign dari pekerjaan yang kata begitu banyak teman, sangatlah menjanjikan, kemudian memilih diam saja di rumah demi menikmati masa hamil tua semabari menghabiskan waktu untuk menunggui suami pulang. Rasanyaaaaa ... jangan ditanya bagaimana sedihnya. Seolah saya menghilang dari pergaulan sebagai mbak mbak kantoran yang paham berbagai brand terbaru dan selalu tergoda untuk membelinya tiap bulan, tanpa merepotkan suami. Namun diam diam pula, ada rasa ingin tetap produktif dan bisa menghasilkan uang sebelum lahiran, setelah punya bayi, hingga dia tumbuh besar lalu punya adik lagi. Semoga kita jadi perempuan berjiwa kuat ya, Mba.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiga Jenis Pompa ASI yang Saya Pakai

Pengalaman Memakai Pompa ASI
Sejak melahirkan, saya memang memutuskan akan memberikan ASI sebisanya. Karena tidak mahir memeras dengan tangan kosong, saya mulai mencari pompa ASI. Awalnya, bukan untuk Kira ketika ditinggal kerja saya mencari pompa, tetapi untuk Kira yang sedang disinar biru di rumah sakit bilirubinnya tinggi.
Ada tiga pompa yang sudah saya coba, dan ini ulasannya.
Ketika mencari di rumah sakit, suami saya menemukan pompa ASI model pertama.



Pompa ini bentuknya agak membingungkan. Saya tidak paham apa maksud pipa panjang yang menghubungkan pompa dan corong yang melekat pada payudara. Yang pasti, rasanya sangat tidak nyaman dan tidak efisien. 

Saya rasa, karena udara yang seharusnya langsung terpakai sebagai energi pemompa harus melewati liukan pipa itu. Jadi, kekuatannya sudah jauh berkurang sehingga kekuatan menyedot ASI pun minim.
Ini adalah pompa pertama yang saya gunakan, dan pertama kali menggunakannya di rumah sakit. Sungguh, sulit sekali mengeluarkan ASI dengan pompa…

Perkenalkan (cerpen Muhajjah Saratini)